Followers

Thursday, 23 February 2017

Persewaan Tenda Djoko Tarub Berdiri Sejak 1957, Deklit Pertama Masih Disimpan


Sebelum persewaan tenda marak seperti sekarang ini dengan beragam bentuk variasi dan aksesorisnya, persewaan ini sudah berdiri lama. Hingga tiga generasi, persewaan tenda ini tetap bertahan dan justru makin berkembang. Bagaimana sejarahnya?

BANGUNAN besar di tikungan Jalan Peres 143, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara, Rabu (4/1) siang itu tak ada aktifitas. Ketika saya memasukinya, nampak beberapa pekerja tengah bersantai diantara tumpukan tenda dan lembaran papan.
Di dalam gedung, tak hanya tumpukan tenda dan papan, tetapi kerangka besi yang tersusun rapi. Ada pula yang masih berada di atas bak truk dan belum dibongkar atau diturunkan. Seorang dari pekerja pun mendatangi saya dan menanyakan maksud kedatangan. ''Silahkan masuk, Bapak ada di dalam,'' katanya.
Seorang lelaki berambut hampir putih seluruhnya pun menyapa ramah dan mempersilahkan untuk duduk. Tukul (67), begitulah nama pemilik persewaan tenda Djoko Tarub.
Ya, nama Djoko Tarub bagi warga Kota Semarang dan sekitarnya tidaklah asing. Tempat persewaan tenda untuk pesta pernikahan, acara pameran, maupun upacara itu sudah dikenal lama. Karena, memang menjadi salah satu persewaan tertua yang hingga saat ini masih bertahan.
Bapak enam anak dan lima cucu itu pun menuturkan, usaha persewaan tenda dirintis oleh sang bapak, almarhum Kalut. Kala itu, tenda yang sangat sederhana. Tiangnya terbuat dari bambu dengan panjang empat meter. Ketika ada pesanan, sang ayah dibantu tiga orang untuk memasangnya. Sedangkan untuk membawanya dari rumah, menggunakan gerobak.
''Deklit yang dulu dipakai bapak pun sampai sekarang masih saya simpan. Untuk kenang-kenangan. Warnanya abu-abu, ukurannya 6 x 8 meter. Dulu, antara deklit dan bambu memasangnya hanya diikat dengan tali yang terbuat dari bambu juga. Jadi, setiap ada pesanan, harus membuat tali dari bambu dulu,'' tuturnya.
Sebelum membeli tanah di Jalan Peres, usaha sang bapak dirintis di rumahnya Kampung Batan. Kemudian pada 1960-an pindah ke Kampung Sebandaran. Kemudian pindah ke Jalan Peres mulai 1985. Sang bapak pun mulai mengganti tiang tenda dengan kayu jati. baru pada 1975, menggunakan besi untuk tiang maupun rangka atap.
''Kalau memakai bambu, satu unit butuh waktu satu jam untuk memasangnya. Sekarang, memakai besi sudah lebih cepat. Apalagi, sekarang ditambah variasi plafon dengan kain warna-warni sesuai selera pemesan,'' ujarnya.
Usaha yang kini diteruskan oleh anaknya, Depi Hartono, telah memiliki 50-an unit dan bisa dipakai di atas lahan seluas 3.000 meter persegi. Para penyewa tidak hanya datang dari warga Kota Semarang, tetapi juga dari Solo, Cilacap, Wonogiri, Yogyakarta hingga Kalimantan.
Tukul juga menceritakan, ketika belum memiliki armada, persewaan Djoko Tarub menggunakan nama Guei Kuen Hian, nama armada sekaligus nama pemilik angkutan yang sering dipakai untuk antar jemput tenda.
''Nama Djoko Tarub sendiri dipakai pada 1972, karena saat itu, ketika membawa tenda, sering dikejar polisi. Alasannya, Guei Kuen Hian sudah pulang ke Amerika,'' jelasnya.
Selain Djoko Tarub, persewaan tenda yang berdiri di tahun yang sama dan cukup dikenal adalah milik Taslim yang ada di Boom Lama. Akan tetapi, sekarang sudah tidak lagi menyewakan. Hanya Djoko Tarub yang masih bertahan.
Pada acara resmi, tenda Djoko Tarub juga sering dipakai pada masa gubernur Munadi, Soepardjo Rustam hingga Ismail. Jumlah karyawannya pun kini mencapai 12 orang dan telah memiliki armada truk sendiri. Harga per unitnya pun mulai Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu. (KS)

Candi Tugu atau Watu Tugu Dipercaya Jadi Pembatas Majapahit dan Pajajaran


Libur sekolah, Natal dan Tahun Baru 2017 sedang berjalan. Warga Kota Semarang dan sekitarnya pun mulai mengunjungi beberapa obyek wisata. Tetapi, apakah Candi Tugu atau masyarakat menyebutnya Watu Tugu menjadi salah satu destinasi pilihan? Bagaimana kisahnya?

DARI Jalan Raya Semarang-Kendal atau tepatnya dari depan Kantor Kelurahan Tambak Aji, bangunan berwarna hitam seperti Candi Gedongosongo nampak jelas berada di antara rimbunnya pepohonan di atas bukit kecil.
Untuk menuju tempat itu, saya pun memutuskan melintasi kawasan industri di Jalan Cakrawala yang berdiri beberapa perusahaan seperti Semarang Autocomp Manufacturing, Anugrah Sukses Abadi, Cargill Indonesia dan Adhi karya.
Sampai di perusahaan pengolah batuan menjadi pasir yang tidak ada papan namanya, keberadaan candi pun makin terlihat jelas. Letaknya di bukit teratas kawasan industri. Untuk memasuki kawasan candi, harus berjalan menaiki anak tangga melintasi gapura dari batu hitam.
Posisi Candi Tugu ini tepatnya berada di Jalan Mangkang KM 11, atau sekitar 2 km dari kampus UIN Walisongo, atau sekitar 800 meter dari RSUD Tugurejo. Lokasi Candi Tugu ini sepertinya tak diketahui oleh banyak wisatawan luar.
Karena memang lokasinya yang jauh dari perkotaan, serta tidak memiliki akses masuk seperti pada lokasi-lokasi wisata di Semarang pada umumnya. Untuk menuju lokasi Candi Tugu ini dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi. Dan tidak ada tiket masuk atau tidak dipungut biaya sama sekali.
''Candi itu sudah lama tidak dikunjungi masyarakat, karena jalan akses satu-satunya yang nyaman ya lewat kawasan industri. Kalau dari Jalan Tugurejo, kendaraan harus ditinggal dan jalan kaki menanjak,'' ujar Suprapto (38) salah satu pekerja di kawasan industri itu, kemarin.
Candi Tugu itu mulanya menurut masyarakat sekitar disebut Watu Tugu (Batu Tugu). Bentuk dan teksturnya yang menyerupai stupa candi sehingga kebanyakan orang menyebutnya dengan sebuah Candi Tugu.
Sementara disampingnya, berdiri candi yang mirip dengan Candi Gedongsongo, Dan benarlah. Karena, di dinding candi tertulis "Duplikat Candi Gedong9 Atas Prakarsa PT Tanah Mas Semarang Bp Djamin CH Dibuat Th 1984-1985 Karya PT D Djayaprana Muntilan Dilindungi Dinas Purbakala."
Ada beberapa pemahaman antara para ilmuwan dan juga masyarakat sekitar mengenai Candi Tugu ini. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa bangunan Tugu tersebut adalah sebuah pembatas antara kerajaan Majapahit dan Pajajaran.
Memang sampai saat ini masih ada pemahaman beragam akan keberadaan Watu Tugu. Para ilmuan masih menyakini, Watu Tugu adalah batas dua kerajaan besar dizamannya yaitu Majapahit dan Pajajaran. Sementara itu, dalam tradisi bertutur di masyarakat Tugu, Watu Tugu merupakan tiang tambatan kapal. Cerita bertutur masyarakat ini dikaitkan dengan temuan besi jangkar kapal di lokasi situs pada era 70-an. Sehingga  masyarakat Tugu menyakini bahwa dulunya, lokasi Watu Tugu merupakan dermaga atau pelabuhan.
Sayangnya, asumsi-asumsi yang berkembang dimasyarakat terkait dengan keberadaan Watu Tugu semakin sulit untuk dilacak. Kondisi geologi tanah yang mengalami perubahan drastis dengan adanya pemotongan bukit-bukit disekitar wilayah Kecamatan Tugu mengganggu proses rehistory keberfungsian lahan. Bahkan bukit vital penopang yang menghubungkan antara Watu Tugu dengan Makam Tugu sudah rata dengan tanah, berubah menjadi perkampungan penduduk.
Menurut buku berjudul "Candi Space and Landscape: A Study on the Distribution, Orientation and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains" yang ditulis oleh VĂ©ronique Myriam Yvonne Degroot, Watu atau Candi Tugu ditemukan pertama kali oleh Verbeek pada 1891. Dan candi itu merupakan sisa-sisa pondasi persegi yang ditemukan bersama-sama dengan batas-batasnya.
Pilar memiliki ketinggian 2,30 meter, sedangkan puncak, memiliki tinggi 1,10 meter. Cerita sejarah pemugaran candi pun tertulis di prasasti yang ada di pondasi candi. Prasasti itu kurang lebih mengisahkan bahwa Watu Tugu pernah dipugar berdasarkan saran dari sejarawan Belanda bernama J Knebel pada 1938. (KS)

Sejarah Kelurahan Tambak Aji Kecamatan Ngaliyan


Tambak Aji merupakan salah satu kelurahan di wilayah Kecamatan Ngaliyan. Letaknya strategis, karena berada di tepi jalur pantura. Sebelum menjadi kelurahan, Tambak Aji merupakan salah satu kampung di wilayah Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu. Bagaimana sejarahnya?

SEMILIR angin membuat daun-daun pohon aren dan pepohonan besar di lereng bukit dengan kemiringan sekitar 40 derajat itu menimbulkan nyanyian alam yang khas. Sambil melambai seolah menyapa setiap yang hadir di kawasan itu.
Di bawah bukit, puluhan selang dan pipa menuju dua titik sumber air. Tidak jauh dari bangunan berbentuk sumur, ada 27 pompa air beragam merek untuk menyedot air dari dalam sumur yang tidak begitu dalam tetapi memiliki air yang bening.
Di lahan yang datar itulah, keberadaan sendang Tambak Aji berada. Sendang ini sebelumnya sepert isendang pada umumnya. Dipergunakan untuk mandi, berenang dan airnya dimanfaatkan warga sekitar untuk masak dan minum. Setelah longsor pada 1997, sendang pun ditutup dengan cor agar mata airnya tidak tertutup longsoran. Untuk tetap bisa mengambil air, dibuat beberapa lobang seperti sumur.
Dari cerita turun temurun, nama Tambak Aji dimulai dari sekitar 1931 ketika Indonesia masih dalam penjajahan Belanda. Di kawasan itu sudah ada sendang yang airnya melimpah ruah dan dipergunakan warga hingga Dukuh Garut, Dondong, Karanganyar dan Ngebruk.
Untuk menjaga kelestarian sendang tersebut, warga pun secara rutin menggelar tradisi "apitan" dengan menyembelih kambing. Darah kambing pun ditempatkan ke dalam empat takir kemudian diletakkan di empat sudut sendang. Sedangkan daging kambingnya dimasak dan dinikmati seluruh warga.
Para kyai waktu itu, diantaranya Kyai Siran, Kyai Ashari, Kyai Syarif, Kyai Nasirab, Kyai Marjuki dan Kyai Maksun, murid Mbah Abu Bakar berembug dan bersepakat, untuk memberi nama kampung itu menjadi Tambak Aji.
''Dari air sendang yang melimpah ruah itu kemudian warga bergotong royong membuat empat tambak. Para kyai pun meminta agar warga aji-aji, atau merawat sendang yang sudah dibagi empat tambak. Hingga kemudian para kyai memberi nama Tambak Aji,'' tutur Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Tambak Aji, Agus Maryanto, saat ditemui di kantornya.
Tambak Aji pun sebelum 1992, merupakan salah satu kampung di wilayah Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu. Pemerintah Kota Semarang pun melakukan penataan wilayah dengan menerbitkan PP No 50 tahun 1992 dan menetapkan Tambak Aji menjadi kelurahan di wilayah Kecamatan Ngaliyan.
Sejarah Tambak Aji yang disampaikan Agus Maryanto pun diamini oleh tokoh Kampung Tambak Aji, Nasirun (40) dan Sugiman (69) bapak tujuh anak 11 cucu warga RT 9 RW 12, ketika ditemui tidak jauh dari sendang.
Untuk "nguri-uri" sejarah dan berharap air sendang tetap melimpah, setiap Dzulhijah, warga tetap menggelar apitan dengan menyembelih kambing. Sementara, setiap Rabiul Akhir, digelar haul Mbah Abu Bakar, selaku tokoh babat alas sekaligus penyebar agama Islam di wilayah Karanganyar, Bringin, Tugurejo, Tanjungsari maupun Tambak Aji sendiri.
Wilayah Tambak Aji pun kini berkembang. Selain berdiri dua kampus, juga sekitar 20-an perusahaan. Kelurahan Tambak Aji dihuni 21.059 penduduk atau 6.752 KK dan terbagi dalam 16 RW dan 126 RT. (KS)

Sunday, 15 January 2017

Sendang Pengantin di Gombel Lama


Kawasan Gombel tidak hanya dikenal tentang legenda hantu Wewe saja. Tetapi, di wilayah itu juga terdapat kisah tentang sepasang pengantin yang mandi di sebuah sendang, kemudian hilang. Hingga tempat itu dinamakan Sendang Pengantin. Bagaimana kisahnya?

GEMERICIK air terdengar cukup pelan ketika saya menginjakkan kaki di sebuah lahan di sebuah lembah kecil yang dipenuhi pohon pisang maupun beberapa pohon besar lainnya, Rabu (30/11) siang.
Jalanan setapak yang becek, hanya sebagian ditumbuhi rumput dan beberapa sampah plastik membuat kaki melangkah harus berhati-hati agar tidak terperosok lumpur yang licin. Meski berada di tepi Jalan Gombel Lama yang beraspal, jalan yang mengakses ke rumah warga di wilayah RT 3 RW 6 Kelurahan Tinjomoyo itu masih tetap jalan tanah.
Sampai di lembah, terlihat beberapa petak kolam ikan milik Mulyono (40) yang airnya mengalir dari sumber utama berupa bangunan tembok beratap berukuran 3 meter X 4 meter. Meski terlihat tidak jernih, aliran air terlihat stabil. Memasuki bangunan bertembok yang dibagi untuk tempat mandi perempuan dan laki-laki di sisi selatan, terlihat aliran air bening secara perlahan memenuhi penampungan.
''Sendang ini dinamakan Sendang Nganten, atau Pengantin. Dulu, ada sepasang pengantin yang belum "sepasar" mandi disini, tiba-tiba hilang. Keluarganya pun sempat mencari, termasuk warga, tetapi tidak ditemukan. Ranjang pengantin yang ada dirumah pun dibuang kesini, dan berubah menjadi batu. Warga menyebut, Batu Kasur,'' tutur Mulyono.
Mulyono yang mengaku mendapat cerita dari almarhum bapaknya Rebo, menunjukkan batu kasur yang tertutup semak belukar serta sendang yang airnya sering diambil oleh warga Solo, Yogyakarta maupun warga Tionghoa untuk keperluan sesaji menjelang pesta pernikahan dan lainnya.
''Kalau warga sekitar, ketika air PDAM mati, memanfaatkan sendang untuk mandi dan air minum. Karena, sendang ini, meski masuk musim kemarau, airnya tidak pernah kering, terus mengalir,'' ujar bapak satu anak itu.
Untuk melestarikan sekaligus menjaga sendang, Mulyono pun mendirikan pemancingan yang ia beri nama Pemancingan Sendang Nganten. Ia menyediakan ikan gurami, kalper, bawal, lele dan nila untuk dipancing.
Ditemui terpisah, Parjono (55) dan Sumirah (57) juga menuturkan hal yang sama terkait sejarah Sendang Pengantin yang kala itu ada sepadang pengantin yang mandi di sendang kemudian hilang tak berbekas.
Cerita tentang sendang pun hanya diketahui oleh kalangan orang tua. Pasalnya, beberapa tahun, Jalan Gombel Lama ditutup dan menjadi tempat pembuangan sampah. Sehingga, ketika jalur itu diaktifkan kembali, selalu longsor, karena lahan diwilayah itu sebelumnya menjadi tempat pembuangan akhir.
''Kalau pemerintah mau turun tangan dan perhatian, Sendang Pengantin bisa menjadi obyek wisata sejarah. Infrastrukturnya dibangun, tentu akan menjadi daya tarik wisatawan,'' harap Parjono yang juga pensiunan sopir truk sampah, kemarin. (KS)

Masjid At Taqwa Kampung Kulitan Pernah Jadi Surau Keluarga dan Pekerja Tasripin


SELAIN dikenal sebagai kediaman keluarga Tasripin dan kampung Gilo-gilo Semarang, Kampung Kulitan juga memiliki beberapa artefak yang hingga kini masih terjaga. Diantaranya ada tujuh rumah milik Tasripin dengan bangunan asli bergaya Semarangan dengan bahan baku kayu jati yang masih kokoh berdiri serta sebuah masjid di ujung gang.
Dari pengamatan saya, masjid ini memiliki facade tunggal dengan jumlah trave tiga buah. Pintu masuknya ada di sisi timur. Lantai pertama atau kolong bangunan dipergunakan sebagai tempat untuk mengambil air wudhu, dan lantai utamanya untuk shalat atau ibadah. Pondasi bangunan berkonstruksi kerangka kayu terbuat dari batu dengan umpak.
Sementara itu, dari penuturan sesepuh warga, sebelum menjadi masjid megah seperti saat ini, bangunan ini merupakan sebuah surau atau langgar. Dinding bangunan awalnya terbuat dari papan kayu. Bentuk atapnya adalah tajuk tersusun yang pada puncaknya diberi mahkota. Sementara bahan penutup atapnya adalah genteng. Terdapat teritisan yang ditutup dengan seng diakhiri dengan talang gantung.
Selain itu juga terdapat serambi di depan bangunan yang dinaungi dengan atap sosoran dari seng. Atap ini disangga oleh konsol dari besi tuang. Terdapat lubang angin pada entrance. Pintu masuk berdaun ganda dengan ambang datar dan panel dari kayu.
Untuk jendela juga dengan ambang atas datar dan ambang bawah tidak disangga. Jendela ini juga berdaun ganda, terdapat bukaan beruba lubang bukaan angin. Bangunan yang terkait sekitar masid adalah rumah tinggal milik Abdul Djalil yang terletak di sebalah timur bangunan.
Sebenarnya, tak ada yang istimewa dari masjid itu, namun masjid bernama At Taqwa tersebut merupakan saksi sejarah kejayaan Tasripin, warga pribumi terkaya di Kota Semarang pada zaman penjajahan Belanda dan dikenal sebagai pengusaha kulit, kopra dan kapuk.
Karena kisahnya itulah, masjid At Taqwa atau yang lebih dikenal warga dengan sebutan masjid Tasripin ini menjadi salah satu bangunan bersejarah di Kampung Kulitan, yang ada di wilayah Kecamatan Semarang Tengah. Dan dipastikan pula, masjid ini didirikan dalam kurun waktu yang bersamaan dengan pengembangan kawasan Kulitan sebagai kawasan hunian. Meski tepatnya belum diketahui, akan tetapi kampung ini mulai berkembang semenjak didirikannya pejagalan di kampung Jagalan pada dasawarsa pertama abad kesembilan belas. Sebagai perkampungan pribumi adalah wajar jika langgar merupakan fasilitas yang diperlukan.
''Masjid ini dulunya hanya sebuah langgar atau musala kecil yang terbuat dari kayu jati dengan tingkat dua. Bagian bawah untuk wudhu, sementara bagian atas untuk salat dan kegiatan ibadah lainnya. Dibangun atau direnovasi pada 1998. Bangunan yang masih asli tinggal sedikit," kata Mariman (61) salah satu sesepuh Kampung Kulitan, kemarin.
Mariman pun mengaku, pada masa kecil sering tidur di langgar setelah selesai mengaji. Menurutnya, Tasripin merupakan orang agamis, sehingga tidak mustahil langgar itu sangat diperhatikan keberadaannya. Karena, langgar itu digunakan untuk kegiatan ibadah Tasripin bersama keluarga dan para pekerjanya. Peninggalan yang masih asli saat ini menurut Mariman hanyalah bedug dan kentongan saja.
Santoso (53), warga Kampung Kulitan yang juga keturunan Tasripin menjelaskan, langgar, surau atau mushala itu dibangun sekitar 1825 dengan ukuran sekitar 4 meter x 8 meter dengan bahan baku bangunan dari papan kayu jati. ''Langgar atau surau ini menjadi tempat ibadha keluarga dan pekerja, karena keluarga besar memang tinggal di kampung ini,'' jelasnya. (KS)

Kampung Rental di Jalan Menoreh Utara Sampangan


PEMBERIAN nama suatu tempat atau jalan yang dikenal sebagai toponim, sudah dikenal masyarakat sejak awal keberadaannya. Dalam perkembangannya, pengertian toponim tidak hanya pada nama suatu tempat tetapi lebih luas, yaitu pada upaya untuk mencari asal-usul, arti, penggunaan, dan tipologi nama suatu tempat/daerah.
Begitu juga dengan keadaan di Kota Semarang, yakni kampung-kampung tradisional yang berkembang di sekitar pusat pemerintahan Kotapraja Semarang, diberi nama sesuai dengan nama profesi dari mayoritas penduduknya. Profesi penduduk itu sendiri, muncul sebagai akibat logis dari permintaan pasar dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang tinggal di wilayah pusat-pusat pemerintahan.
Akan tetapi, pada masa kini, apakah berlaku pemberian nama bagi pemukiman di Jalan Menoreh Utara VIII yang dikenal sebagai Kampung Rental?
Disebut Kampung Rental menurut salah satu warga Jl Menoreh Utara VIII No 8, Edo Wisnu Wardhana (42) berawal dari kedatangan beberapa warga seperti Yuli, Lastri, disusul Jawadi, Yaeni, Irfan, Deni, Yosi, Rudi dan dirinya yang membuka rental atau persewaan mobil di kampung itu.
''Kalau yang pertama Bu Yuli pada 2006 menyewakan mobil. Kemudian warga pun belajar tentang bagaimana membuka usaha rental mobil. Akhirnya, sekarang hampir mayoritas warga disini memiliki usaha rental dan dikenal sebagai Kampung Rental,'' tutur warga kelahiran Purwodadi yang juga bapak dua anak itu, kemarin.
Mobil yang disewakan pun menurut Edo mulai dari Xenia, Avanza, Innova dan Mobilio, karena jenis mobil itu mejadi favorit masyarakat untuk kegiatan kantor maupun keluarga. Bahkan, untuk menyatukan para pengusaha, warga pun bersepakat membentuk Paguyuban Rental Mobil Amanah. Kegiatan paguyuban pun meliputi arisan bersama, wisata bersama, hingga kegiatan sosial seperti menengok tetangga yang sakit, saling membantu ketika ada kegiatan dan berkunjung ke panti asuhan.
Karena tidak semua warga memiliki garasi, jika malam hari, sepanjang jalan di kampung itu pun dipenuhi parkir mobil. Dan menurut Edo, warga lain yang tidak memiliki usaha rental pun tidak ada yang memrotes. Karena, keberadaan pemilik rental justru membantu warga dalam segala kegiatan.
''Misalnya, ketika ada peringatan 17 Agustus, pengusaha rental ini iurannya pasti banyak. Jika ada tetangga yang membutuhkan mobil, harganya pun murah, bahkan untuk kegiatan tertentu diberikan cuma-cuma,'' ujarnya.
Pantauan saya, tiap malam, hampir mayoritas para pemilik rental dibantu karyawannya bersama-sama mencuci mobil yang selesai disewa. Aktifitas itu membuat kampung pun hidup ketika malam hingga dini hari. Sehingga, menurut Edo, kampung pun menjadi aman karena pada malam hari ada aktifitas warga.
Menjelang lebaran pun, Edo mengaku kesibukan para pemilik rental pun bertambah, karena melayani masyarakat yang hendak menyewa mobil-mobilnya untuk mudik maupun berlebaran ke kampung halaman. Untuk tarif, mereka pun tidak saling perang harga, tetapi bersepakat memberi harga yang sama.
Misalnya untuk hari-hari biasa, biaya rental satu unit Avanza atau Xenia dipatok Rp 250 ribu. Jika dengan sopir, tarifnya pun bertambah Rp 100 ribu. Menjelang lebaran untuk harga sewa selama tujuh hari dipatok Rp 3,5 juta. (KS)

Perumahan Tanah Mas : "Golden Land" Yang Ditinggalkan Penghuninya


Pada awal 1970-an, kawasan perumahan Tanah Mas menjadi kebanggaan para penghuninya sekaligus menjadi pemukiman favorit. Karena menjadi konsep pertama perumahan yang dipasarkan dengan sistem KPR BTN serta serta letaknya yang strategis, berjarak 2 KM dari Stasiun Poncol, 3 KM dari Tugu Muda dan kurang dari 4 KM dari Pasar Johar. Bagaimana dengan sekarang?

GOLDEN Land, adalah istilah yang sering digunakan oleh beberapa warga yang saat ini masih tinggal di perumahan Tanah Mas. Istilah ini sering dipergunakan karena nama Tanah Mas terlanjur identik dengan banjir rutin dan rusaknya jalan lingkungan.
Bertahun tahun Tanah Mas menjadi kebanggaan bagi penghuninya dan tentunya harga jual pun merambat naik, bahkan ketika beberapa perumahan baru mulai muncul, Tanah Mas tetap merupakan perumahan favorit. Akan tetapi, seiring dengan pembangunan perumahan baru di kawasan pantai utara Kota Semarang, pada awal 1987, air pasang laut atau yang biasa disebut dengan rob pun mulai merambah ke jalan dan beberapa blok. Akhirnya, perumahan ini pun mulai ditinggal oleh pemiliknya dengan menjualnya atau pindah ke pemukiman yang bebas banjir maupun rob.
Seperti yang disampaikan salah satu sesepuh Perumahan Tanah Mas, Mujiono (50). Sejak kawasasn itu sering dilanda rob dan banjir, satu persatu warganya mulai enggan tinggal di rumah dan memilih untuk tinggal di tempat saudaranya atau memilih mengontrak di tempat yang bebas banjir.
''Tetapi, juga tidak sedikit warga yang kemudian menjualnya. Ada beberapa yang sampai 10 tahun tidak laku, akhirnya dibiarkan saja hingga rumah itu dipenuhi dengan rumput liar dan beberapa bagian rumahnya terlihat rusak. Ada pula yang kemudian meninggikan rumahnya, tetapi tidak dihuni hanya sebagai gudang,'' tuturnya.
Dalam sejarahnya, konsep perumahan Tanah Mas membuka pandangan baru tentang konsep rumah bagi kebanyakan orang Semarang dan sekitarnya. Rumah-rumah yang tersusun rapi dan nyaris seragam bentuknya dalam satu blok, dengan pohon penghijauan yang tertata rapi menghiasi sepanjang jalan lingkungan yang ada diperumahan saat itu, betul betul merupakan konsep baru.
''Pada 1983, harga jual tanah sekitar Rp 60 ribu per m2 (untuk rumah type CM, dengan luas 120 m2). Sekarang sudah Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta per m2, bahkan ada yang lebih,'' imbuh Nawawi (56) warga di Jl Tanjung Mas Timur.
Warga pun menurutnya saat ini sudah cukup tenang setelah beberapa infrastruktur diperbaiki seperti peninggian jalan, pengadaan pompa air serta PT Tanah Mas Panggung selaku pengembang perumahan Tanah Mas telah menyerahkan sebagian lahannya untuk pembangunan Prasarana, Sarana dan Utilitas (PSU) perumahan kepada Pemerintah Kota Semarang.
Sekda Kota Semarang Adi Tri Hananto menjelaskan, PSU yang diserahkan pada pertengahan 2015 lalu merupakan sebagian, yang kemudian akan diserahkan secara bertahap. Luas lahan yang diserahkan sebanyak 51,1 KM dan 27.223 m2.
''Lahan-lahan yang diserahkan terdiri dari jaringan jalan sepanjang ± 48 KM dengan luas ± 349.462 m2. Jaringan drainase air hujan sepanjang ± 3,1 KM dengan luas 37.562 m2 dan sarana umum seperti kantor kelurahan, peribadatan, RTH/ taman, lahan untuk pendidikan, dan olah raga dengan luas 27.223 m2,'' jelasnya. (KS)

Rumah Panggung Kampung Melayu Terpengaruh Budaya Banjar, Indis dan Tiongkok


KAMPUNG Melayu adalah salah satu kampung kota di Semarang yang memiliki potensi citra budaya yang khas, yaitu multi etnik dengan beragam artefak arsitektural. Rumah panggung masyarakat Banjar, adalah salah satu artefak yang masih dapat ditemukan keberadaannya di Kampung Melayu dan merupakan hasil kebudayaan masyarakat Banjar yang telah mengalami akulturasi dan asimilasi dengan kebudayaan setempat dan kebudayaan lain.
Ketika saya menelusuri Kampung Melayu, rumah panggung yang dahulu menjadi ciri khas jumlahnya pun kini tak ada puluhan. Beberapa yang tersisa pun ada yang masih dihuni, ada yang dikosongkan, ada pula yang dipasang tulisan "Dijual". Kondisi bangunan pun sebagian besar rusak, hanya beberapa yang cukup terawat.
Seperti rumah panggung milik Hilal (30) warga Jalan Layur No 104 salahsatunya. Kayu jati bercat hijau masih terlihat kokoh. Akan tetapi, batas bangunan lantai dua dan lantai satu hampir setara dengan ketinggian jalan. Pasalnya, lantai dasar rumah itu telah ditinggikan hingga dua meter karena rob sering menerjang kawasan itu. Jalan Layur yang dahulu sering tergenang luapan Kali Semarang pun kini telah ditinggikan dan dipaving.
''Rumah ini peninggalan simbah saya. Mbah Kartadinata. Rencana mau kami bongkar, karena semakin tenggelam. Selama saya tinggal disini, sudah ditinggikan dua meter,'' kata ibu dua anak itu.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Taufan Madiasworo, mahasiswa Pasca Sarjana Teknik Arsitektur Undip pada 2001, kebudayaan Banjar berpengaruh kuat terhadap bentuk rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu Semarang yang tercermin dari fungsi dan susunan ruang, konstruksi dan ragam hias.
''Bentuk rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu merupakan lingkungan buatan yang merupakan bagian dari sistem budaya yang mencakup bagian-bagian sistem lain seperti organik, sosial dan kepribadian serta merupakan ekspresi dari kebudayaan Banjar yang telah mengalami akulturasi dan asimilasi dengan kebudayaan setempat serta kebudayaan lain seperti kebudayaan Tiongkok dan kebudayaan Indis yang berkembang pada saat Pemerintahan Kolonial serta mengalami adaptasi dengan lingkungan dan kondisi setempat,'' paparnya.
Dari hal itu, menurut Taufan, telah menyebabkan terjadinya akulturasi dalam pola perubahan desain rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu yang cenderung memiliki bentuk baru dengan makna lama. Sehingga terjadi interpretasi baru terhadap bentuk lama yang pada dasarya tetap berakar dari kebudayaan Banjar.
Keadaan itu menyebabkan bentuk rumah panggung masyarakat Banjar di Kampung Melayu memiliki ciri khusus dan unik yang justru memperkaya khasanah variasi arsitektur tradisional di Indonesia. Pengaruh kebudayaan Banjar itu kata Taufan, terlihat dari bagian kemuncak atap, listplank, pagar teras, penyangga atap tritisan, dinding penyekat dan tangga. Ragam hiasannya ukiran kaligrafi Arab. Ornamentasinya minimalis, berbeda dengan yang asli di Banjar Kalimantan Selatan.
''Ragam hias batu berukir pada bagian kemuncak atap sulit dilacak maknanya yang merupakan pengaruh arsitektur Indis. Kemudian ragam hias geometris dengan hiasan bunga Peony merupakan pengaruh arsitektur Tiongkok,'' jelasnya.Saat ditemui di kantornya, Lurah Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Dwiyanto menjelaskan, banjir dan rob yang beberapa tahun sering menerjang Kampung Melayu membuat rumah panggung sebagai ciri khas pemukiman di wilayah itu dibongkar oleh pemiliknya. ''Kalau pun yang sekarang ini masih ada, sebagian kondisinya rusak. Dan paling banyak masih ada di wilayah RW 3 dan RW 4,'' tuturnya. (KS)

Sumur "Panguripan" di Klenteng Sam Poo Kong


KISAH perjalanan Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng He atau yang akrab disebut Cheng Ho di Kota Semarang tidak hanya meninggalkan jejak peninggalan sejarah dan tauladan. Kedatangan Cheng Ho ke Indonesia, bersama 30 ribu pasukan dengan 317 kapal membawa ajaran Islam dengan damai, tanpa peperangan, tanpa konflik disaat penduduk di kawasan ini beragama Hindu dan Budha.
Klenteng Sam Poo Kong yang menjadi petilasan itu pun sekarang tak hanya banyak dikunjungi umat Tionghoa tetapi juga umat beragama lainnya. Hal itu menjadi bukti bahwa Cheng Ho membawa semangat kerukunan beragama.
Nafas kehadiran Cheng Ho pun tidak hanya dengan bukti keberadaan klenteng yang ada di daerah Simongan, Semarang Barat. Bukti yang ada didalamnya pun menguatkan keberadaannya. Seperti beduk maupun gua yang didalamnya terdapat sumur yang tidak pernah mengering meski kemarau tiba.
Sumur tua peninggalan Cheng Ho itu pun kemudian disucikan hingga kini. Sumur tersebut dianggap suci airnya dan dipercayai dapat mengabulkan dan mengobati segala macam penyakit. Saat ini pemanfaatan sumur tersebut sudah menggunakan aliran pipa yang dipompa dari sumur dan mengalirkan airnya ke atas sehingga pengunjung dan peziarah yang akan mengambil air tersebut tidak kesulitan.
Tidak hanya penganut Khonghucu, Tao dan Buddha saja yang mengambil air tersebut, banyak peziarah muslim yang juga memanfaatkan air tersebut bagi keperluannya. Mereka meyakini, air yang berasal dari sumur tersebut dapat membantu memenuhi hajat mereka.
''Sebelum Konghucu ditetapkan sebagai agama di Indonesia, setiap warga yang bersembahyang di sumur itu selain membakar dupa juga melempar kion ke dalam sumur. Yang diartikan sebagai membuang sial. Akan tetapi, sekarang, aksi melempar koin itu sudah tidak ada,'' tutur pemandu wisata Klenteng Sam Poo Kong, Eni Sujono.
Eni pun menceritakan ketika masa kecil. Ia kerap bermain di klenteng itu karena kakeknya yang saat ini masih hidup, Mbah Mursyid (100) merupakan juru kunci gua dan sumur pada akhir 1960 hingga 1999. Karena hanya memiliki kedalaman sekitar satu meteran, ia pun bersama teman-teman sebayanya sering menceburkan diri ke dalam sumur untuk mengambil koin tersebut.
''Sekarang, gua itu hanya khusus untuk sembahyang. Warga pun tidak bisa mengambil langsung airnya, tetapi ketika ingin airnya, akan diambilkan oleh petugas yang berjaga. Mereka mempercayai, air itu untuk kesembuhan, menjaga kesehatan dan melancarkan usaha. Ada yang menyebut sumur itu dengan nama sumur Panguripan, ada yang menyebut sumur Cheng Ho dan sumur Sam Poo,'' ujarnya.
Dari beberapa sumber juga menyebutkan, dari sumur di gua itu, Cheng Ho dapat pulang ke negeri Cina. Mitos lainnya, pengunjung yang melampar uang di dalam sumur tersebut dapat membuang sial selama satu tahun. (KS)

Sunday, 30 October 2016

Tanjakan Bukit Gombel


Ketika menyebut nama Gombel, mayoritas warga Kota Semarang, pasti akan langsung menyebut, sebuah bukit yang ada di sisi selatan Pasar Jatingaleh dengan jalan yang menanjak cukup berat, cerita mistisnya serta tempat yang sering terjadi kecelakaan.

GOMBEL diyakini merupakan pemekaran kawasan Semarang Selatan pada masa kolonial, yakni sekitar 1900. Sejauh ini, belum ada literatur yang menyebut sejarah pemberian nama wilayah itu.
Warga Kota Semarang mengaitkan nama wilayah itu dengan cerita tentang wewe gombel yang konon menunggu kawasan itu. Cerita itu semakin berkembang karena di jalan itu juga acap terjadi kecelakaan, yang kemudian dikaitkan dengan hal-hal berbau mistis.
Ada pula yang menyebut nama Gombel merupakan pemberian Ki Ageng Pandanaran, yang berziarah di sebuah makam di Gunung Jabalkat. Ia berziarah dan melewati tanjakan terjal dan curam. Sejak saat itulah disebut sebagai Tanjakan Gombel. Di wilayah inilah dulu  digunakan sebagai area kuburan. Masyarakat Tionghoa dikabarkan sebagai pihak yang menentang rencana pembangunan jalan di selatan kota Semarang ini yang kala itu digagas oleh Belanda.
Akhirnya, penguasa wilayah itu saat penjajahan Belanda, Mr Baron van Heeckeren, mengusulkan kuburan di sekitar tanjakan Gombel itu khusus bagi kerabat dekat yang sudah dikubur di situ. Sekarang, kawasan itu disebut kawasan Kedungmundu. Pemekaran Semarang bagian Selatan sendiri dimulai pada tahun 1909.
Di kawasan Gombel, berdiri sejumlah perumahan elit, hotel, pemukiman, dealer mobil, arena golf, kafe, gardu pandang, serta berdiri puluhan tower pemancar, telekomunikasi, radio, maupun televisi. Karena, Gombel merupakan bukit tertinggi di Kota Semarang.
Lajur lalu lintas Gombel pun terbagi dua. Dari arah selatan, melintasi lajur Gombel Lama, sementara, dari arah utara, melintasi Gombel Baru. Kebijakan pemerintah itu dilakukan karena wilayah itu sering terjadi kecelakaan.
Menjelang malam, kini, kawasan tersebut mulai menunjukkan hidup. Restoran Gombel Indah, restoran Mutiara, restoran Alamanda, restoran Alam Indah, Massimo, Grand Panorama, Locus Karaoke, selalu dipadati pengunjung.
Apalagi ketika Sabtu malam, tak hanya restoran dan tempat hiburan yang ramai. Taman Tabanas dengan dilengkapi tugu setinggi 10 meter yang memiliki areal yang cukup luas, menjadi pilihan favorit warga Kota Semarang untuk menikmati pemandangan Kota Semarang bagian bawah. Tak hanya malam, pagi dan sore hari, tempat itu selalu jadi jujugan orang.
Sesepuh warga Jatingaleh, Sarmono (79) mengatakan, cerita mistis hanya berhembus dari mulut ke mulut. Karena, ia sendiri belum pernah melihatnya secara langsung, dan bapak empat anak itu pun tidak meyakini kebenarannya.
Akan tetapi, karena lokasinya yang strategis, Gombel yang menghubungkan kawasan Semarang atas dan Semarang bawah, menjadi tempat favorit dan selalu ramai dikunjungi.
''Dari ketinggian bukit ini, siapapun dapat menyaksikan lanskap Kota Semarang dengan jelas. Rumah-rumah penduduk, gedung-gedung perkantoran, pabrik-pabrik, hingga cerobong asap di pelabuhan serta kapal yang berlayar di laut pun bisa terlihat,'' katanya. (KS)

Tuesday, 9 August 2016

Sumur Towo di Jalan Parang Kusumo : Berasa Tawar Meski Sumur di sekitar Asin


Kebanyakan sumur milik warga di wilayah Parang Kusumo, Tlogosari Kulon berasa asin. Akan tetapi, sejak kawasan itu belum menjadi perumahan, sumur yang ada di Jalan Parang Kusumo IX tetap terasa tawar. Bahkan, sumur yang dahulu dikelilingi makam ini masih sering didatangi warga dari dalam maupun luar Kota Semarang.

KEBERADAAN Sumur Towo di Jalan Parang Kusumo IX nyaris tak terlihat, karena berada di antara bangunan Pos Kamling RT 3 RW 3 dan Mushala At Taqwa. Sehingga, warga di luar Tlogosari, mungkin tidak tahu jika sumur yang pada jaman SDSB ini, sering didatangi warga.
Ketua RT 3 Ngadiyo (65) maupun Paino (66) warga Jalan Parang Kusumo IX Nomor 10 yang kediamannya tidak jauh dari sumur itu mengatakan, sebelum wilayah Parang Kusumo maupun Jalan Gusti Putri menjadi kawasan perumahan, merupakan ladang jagung dan makam.
Keberadaan sumur itu sendiri berada di tengah makam umum sekaligus tokoh babat alas Kampung Tlogo Timun dan Tlogo Kangkung. Sumur yang memiliki lobang berdiameter kurang dari dua meter dan kedalaman 10 meter itu, dahulu dikelilingi empat pohon jati. Bibir sumur pun dipagari dengan bambu.
''Pada 1987 lahan di kawasan ini dibuat perumahan dengan membuat kapling-kapling terlebih dahulu sebelum mendirikan rumah. Pengembang perumahan sempat terhenti, karena beberapa pekerja maupun alat berat tiba-tiba macet ketika hendak "membersihkan" sekitar sumur. Akhirnya, dua kapling dibiarkan kosong, tidak dibangun rumah. Oleh warga, sumur pun dirawat, sekaligus lahan yang kosong dibuat mushala dan pos kamling,'' tutur Ngadiyo, bapak dua anak dan enam cucu yang telah tinggal di perumahan itu sejak 1988.
Warga Tlogo Timun maupun Tlogo Kangkung, sampai saat ini pun masih sering menggelar upacara selamatan di sumur tersebut setiap malam satu Suro
atau satu Muharam. Mereka membawa beragam makanan seperti tumpeng, ayam ingkung dan jajan pasar yang dipimpin tokoh masyarakat. Beberapa warga dari Demak juga turut meramaikan acara.
Ramelan (67), yang kediamannya persis di depan sumur menambahkan, di tepi sumur, dahulu juga terdapat tempat untuk bertapa warga setiap malam Jumat Kliwon. Dari segi rasa, bapak lima anak dan enam cucu itu juga sempat heran. Meski sumur di daerahnya berasa asin, akan tetapi, sumur tersebut justru terawa tawar. Sehingga, warga pun memberi nama sumur tersebut dengan Sumur Towo.
''Towo itu artinya tawar. Tapi, kadang berwarna bening, kadang keruh. Dulu, beberapa warga sering menggelar upacara mengambil pusaka, dan mereka mendapatkan keris. Ada warga yang pernah melihat ular dan harimau yang sedang menunggui sumur itu,'' ujarnya.
Bahkan, tidak sedikit warga dari luar kota yang datang ke sumur tersebut dan mengaku, air tersebut dapat mengobati berbagai macam penyakit. Akan tetapi, Ramelan tidak bisa memastikan, karena belum pernah mencobanya sendiri. Wallahu a'lam bish shawab. (KS)

Warung Makan Haji Basuki Jl Abdulrahman Saleh 72 Berdiri Sejak 1965, Pelanggan Datang Cium Tangan


Peta kuliner di Kota Semarang kian berkembang pesat sejalan dengan tingginya minat masyarakat menjelajahi dunia yang satu ini. Berbagai menu baru dari restoran dan kafe, kini digencarkan lewat berbagai macam media promosi, mulai dari media cetak, selebaran yang dibagikan di lampu lalu lintas hingga sosial media seperti Facebook, Twitter, Path hingga Instagram. Tapi, ada pula yang masih tetap bertahan sejak dulu tanpa gencar berpromosi.

KETIKA melintas di Jalan Abdulrahman Saleh dari arah Kalibanteng, kebanyakan masyarakat mungkin tidak tahu letak warung makan ini. Karena, meski letaknya di tepi jalan, akan tetapi bangunannya menjorok ke dalam terhalang sebuah bangunan. Jika dari arah Manyaran, warung di kanan jalan itu akan kelihatan.
Ya, Warung Makan Haji Basuki. Berdiri sejak 1965 dan awalnya hanya berupa lapak sederhana dari bambu sebagai tiang untuk menopang atap plastik dan meja kayu untuk meletakkan masakannya. Letaknya pun saat itu berada di depan Museum Jawa Tengah Ronggowarsito. Akan tetapi, mulai 1983 pindah ke Jalan Abdulrahman Saleh 72.
''Pada 1980-an, diusir oleh tentara. Kalau tidak mau pindah, dicap PKI. Akhirnya warung pindah ke Jalan Abdulrahman Saleh Nomor 72 sekarang ini, yang saat itu masih kebun bambu. Kemudian dibangun rumah sekaligus warung makan,'' tutur Poni Sriatun (87), pemilik Warung Makan Haji Basuki.
Ketika ditemui, ibu 13 anak, 27 cucu dan empat cicit itu menjelaskan, selera masyarakat terhadap hidangan tradisional tetap tak pernah bergeser. Sejak berdiri 51 tahun lalu, para pelanggannya tetap berkunjung dan mengajak serta anak dan cucunya. Ketika sang pelanggan lama sudah tiada, berganti anak atau sang cucu sebagai pelanggan tetapnya.
Soal resep, Poni pun mengaku tetap mempertahankannya. Khususnya untuk masakan khas tradisional yang sejak dulu dijual. Seperti masakan dari belut, kakap, mujahir dan lele serta masakan unggulan asem-asem ikan kakap manis. Dalam menyajikan menu, Poni pun memisahkan nasi dan sayur dengan wadah yang berbeda.
Poni yang ditinggal suaminya meninggal dunia pada 1999 itu dibantu keponakannya, Catur Awan Yulianto (30) dan adik kandungnya, Supartinah (64) membuka warung makan mulai pukul 08.00 sampai pukul 16.00. Poni yang lebih akrab disapa nama suaminya, Bu Hajah Basuki juga mengakui, setiap pengunjung yang menikmati santapan yang memadukan kombinasi cita rasa manis, asam dan pedas, istilah "makan pasti gembrobyos" dilontarkan pelanggannya.
''Bahkan saking sudah akrabnya, dan mereka menganggapnya sebagai keluarga, para pelanggan yang datang selalu cium tangan kepada saya ketika mereka datang. Dan itu sudah terbiasa dilakukan para pelanggan sejak dulu,'' ujarnya.
Seperti yang dilakukan Junantio (46) warga Jomblang dan Suwardi (50) warga Kaliwungu, Kendal ketika berkunjung bersama keluarganya, kemarin. Setelah memarkir kendaraannya, mereka pun langsung masuk ke warung yang cukup luas itu. Ketika Poni muncul dari ruang belakang, tanpa dikomando, mereka langsung bersalaman dan mencium tangan perempuan yang sehari-hari mengenakan jilbab itu.
''Saya sudah menjadi pelanggan, termasuk keluarga sejak belasan tahun lalu. Menu masakan Mbah Basuki yang mengombinasikan antara manis, asem, gurih dan pedas ini tiada duanya. Apalagi, dalam memberikan pelayanan, seperti orangtua sendiri. Jadi serasa makan dirumah, meski tetap harus membayar dong,'' ujar Suwardi, kemarin. (KS)

36 Tahun, Camin Tidur Di Atas Perahu, Layani Jasa Penyebarangan di Banjirkanal Barat


Sungai Banjirkanal Barat tak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir di Kota Lunpia. Keberadaannya juga menjadi tempat menggantungkan hidup bagi banyak orang. Salah satunya, Camin yang sejak 1980 menyediakan jasa menyeberangkan penumpang dari tepi sungai Banjirkanal Barat yang satu ke tepi lainnya.

PERMUKAAN air Banjirkanal Barat masih tenang. Semilir angin yang berasal dari pertemuan udara dan rindangnya pohon semakin mendukung indahnya suasana pagi itu. Dari tepian, tampak sebuah perahu sedang kembali setelah menyeberangkan penumpang. Perahu kayu yang biasa dikenal dengan istilah Perahu Eretan itu dikendalikan oleh seorang lelaki, namanya Camin.
Saat perahu menepi, perahu tidak dalam keadaan kosong. Di dalamnya terdapat beberapa jenis perabot rumah tangga seperti pakaian, gayung, teko, kompor, dan panci. Camin menyediakan itu semua. Sebab jika malam tiba, Camin menyulap perahunya menjadi tempat tidur.
Meski BKB banjir atau kondisi tidak memungkinkan, lelaki kelahiran 1960 itu tetap bertahan tinggal di perahu. Sebab di Semarang, bapak empat orang anak ini juga tidak memiliki tempat tinggal tetap. Jika malam tiba, perahu akan ditambatkan di tengah.
"Pokoknya mau banjir, hujan deras, ada geledek, saya masih di sini. Kalau perahu ditaruh di tepi, tikus pada loncat menggerogoti papan bagian bawah, nanti bocor airnya tembus, bisa tenggelam," tuturnya.
Pria asal Brebes ini memulai profesi penyedia jasa penyeberangan sejak 1980 dengan modal sekitar Rp 13 juta ketika Banjirkanal Barat belum dinormalisasi. Biaya itu belum termasuk kawat besi yang dibelikan anaknya dari pelabuhan Cirebon.
Saat proyek normalisasi BKB  berjalan, Camin sempat diminta oleh pekerja proyek untuk berhenti mengoperasikan jasa angkut perahunya. Tetapi Camin menolak. Ia menyiasatinya dengan menggeser steger perahu ke barat atau timur, menyesuaikan kondisi proyek.
"Tukang proyek suruh saya berhenti, tapi saya tidak mau. Misalkan sebelah sini lagi dibangun, stegernya dicopot, saya pindah ke sebelah sana, biasanya dibantu, karena butuh minimal dua orang," ujarnya.
Saat dirintis, Camin mengaku usahanya kurang diminati masyarakat. Perahu pun sempat dipindah ke Kaligawe, namun sama-sama tidak laku. Lalu, usaha jasa penyebrangan  diteruskan oleh adiknya.  Camin memutuskan mengadu nasib ke Jakarta, sebelum akhirnya kembali ke Semarang untuk menggeluti usahanya itu.
Agar perahu bergerak maju, Camin bertumpu pada seutas kawat besi yang membentang dari utara ke selatan dan menggerakkan tangannya serupa menarik tambang tanpa lawan. Untuk mencegah luka akibat gesekan telapak tangan dengan permukaan kawat besi yang kasar, Camin menjadikan potongan sandal jepit bekas sebagai alas.
Jumat (29/7) sekitar pukul 10.00 pagi, baru satu penumpang yang menggunakan jasa transportasi miliknya. Ia memasang tarif Rp 2.000 untuk sekali jalan. Camin mengaku jumlah penumpang yang naik setiap harinya tidak menentu. Bahkan sewaktu-waktu, ia tidak mendapatkan penumpang sama sekali.
"Soalnya sekarang ada jalan kereta, sebelumnya bisa sampai 30 orang, ya yang penting bisa buat makan sehari-hari," katanya sambil tertawa.
Salah seorang penumpang, Risti (27) mengaku jarang menggunakan jasa perahu penyebrangan karena sudah memiliki kendaraan bermotor. Meski demikian, menurut Risti, usaha yang dijalankan Camin dapat memudahkan warga yang hendak menyebrang tanpa harus memutar jalan.
"Buat yang jalan kaki atau naik sepeda tidak perlu mutar,"  katanya.
Adapun Sapta Eka Saputra (4,5) mengaku senang menggunakan jasa penyebrangan. Sewaktu-waktu ia akan mengajak orangtua ataupun nenek dan kakeknya untuk menemaninya ke Banjir Kanal Barat.
"Bisa lihat ikan," ungkapnya malu-malu.
Sampai saat ini, Camin memilih untuk mempertahankan profesinya di tengah penghasilan yang tidak menentu. Sempat terbesit keinginan untuk membuka usaha, tetapi ia terkendala modal.
"Nikmati apa adanya ajalah, terserah Yang Kuasa," ujar Camin menutup obrolan. (KS)



Sanggar Walesan "Pak Yono" di Jalan Layur


Dari hobi yang sama, kelompok Sanggar Walesan yang dipimpin oleh Suyono ini tidak sekedar melakukan perburuan di lepas laut maupun berbincang dunia pancing dan ikan, tetapi juga berupaya menyelamatkan terumbu karang di berbagai tempat. Bagaimana kisahnya?

NAMA Jalan Layur menuju arah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang ini sejak zaman Belanda sudah terkenal sebagai pusat penjualan uba rampe alat-alat mancing. Di kawasan yang dulu juga dikenal dengan sebutan Pasar Ngilir itu, hingga kini masih terdapat dua toko grosir dan lima toko pengecer yang menjual peralatan memancing. Mulai dari kail, benang pancing (senar), walesan (tongkat kail) sampai jaring ikan. Bahkan, tali penambat perahu juga dijual di tempat ini.
Predikat Jalan Layur sebagai pusat penjualan alat pancing pun semakin dikukuhkan dengan adanya Sanggar Walesan Pak Yono di Jalan Layur No 25. Di tempat ini, penggemar memancing bisa memesan segala jenis walesan, menggelar acara mancing bersama hingga upaya penyelamatan terumbu karang dengan membuat rumpon di lepas pantai.
Seperti Rabu (3/8) siang. Pendiri sekaligus penasehat Sanggar Walesan, Suyono (61) saat ditemui , tengah menyelesaikan walesan bersama anaknya, Yongki (38). Ada pula Andi (36), Rio Gemblong (23), Rio Tipis (19), Soni Sontong (34) dan Mario (63) yang terlihat santai sambil berbincang "ngalor-ngidul" tentang dunia perpancingan.
''Di sanggar ini, kami bisa berbagi info tentang walesan yang bagus, senar yang memiliki kekuatan menarik ikan di atas 10 kilogram, sampai merencanakan mancing bersama. Tempat yang sudah kita jelajahi diantaranya Cirebon, Pulau Alor, Wakatobi dan Palu,'' tutur Andi yang diamini Suyono.
Sebelum memancing bersama, mereka juga menyiapkan segalanya, mulai dari biaya yang dikeluarkan, perahu yang hendak digunakan, titik mancing hingga menentukan siapa yang menjadi pemandu agar hasil yang didapat memuaskan. Untuk menentukan kapan memancing, mereka menggunakan jadual cuaca yang diperoleh dari BMKG.
Banyaknya terumbu karang sebagai tempat berkembang biak ikan yang rusak pun menjadi perhatian sanggar yang beranggotakan penghobi mancing dari berbagai kalangan maupun klub ini. Pada 27 Maret 2016 lalu, mereka membuat terumbu karang buatan berbahan baku bis beton, jangkar bekas hingga kapal bekas di Kawasan Marina.
''Penggunaan jaring arad di Semarang ini masih diijinkan. Sehingga, merusak terumbu karang. Ini menjadi keprihatinan kami. Ketika terumbu karang rusak, otomatis ikan tidak ada,'' tutur Suyono yang akrab disapa Pak Yono.
Bapak lima anak dan semblan cucu itu juga mengisahkan, dua toko grosir peralatan pancing pun menambah Kawasan Layur makin lengkap. Karena, yang dijual tidak lagi walesan bambu, tetapi juga terbuat dari plastik dan fiber glass banyak dijual di sana. Sementara, Yono lebih banyak melayani pembuatan walesan berbahan karbon, karena tak mudah patah. Harganya pun dipatok mulai Rp 500 ribu.
''Dulu, sebelum ada walesan modern, saya yang mengawali berjualan walesan dari bambu. Secara khusus, saya mendatangkan bambu dari Kopeng dan Dieng. Tapi, seiring waktu berjalan, pemancing berganti walesan berbahan karbon atau bekas stik golf,'' ujar Yono yang juga melayani pesanan walesan di kediamannya Jalan Kalicilik 106 selain di sanggarnya. (KS)

Friday, 24 June 2016

Perjalanan Wingko Babat Dari Lamongan, Kini Kuasai Pasar Semarang


Sejak perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS membuka jalur kereta api Surabaya-Semarang pada 1900-1924, Babat menjadi salah satu daerah penting di pelintasan kereta api sisi utara Jawa. Berkat akses yang terbuka, kue wingko khas Babat pun melegenda hingga Semarang.

YA, wingko memang lebih banyak dikenal di Semarang daripada di kota asalnya, Babat, Lamongan, Jawa Timur. Hal ini bisa terjadi tidak lepas dari "perjalanan panjangnya" menuju Semarang menjelang kemerdekaan RI.
Wingko merupakan sejenis kue yang terbuat dari kelapa muda, tepung beras ketan dan gula. Wingko sangat terkenal di pantai utara pulau Jawa. Kue ini sering dijual di stasiun kereta api, stasiun bus atau juga di toko-toko kue untuk oleh-oleh keluarga.
Wingko biasanya berbentuk bundar, biasa disajikan dalam keadaan hangat dan dipotong kecil-kecil. Wingko dapat dijual dalam bentuk bundar yang besar atau juga berupa kue-kue kecil yang dibungkus kertas. Kombinasi gula dan kelapa menjadikan kue ini nikmat. Harga kue ini dapat bervariasi tergantung tempat menjualnya dan merek wingko ini.
Wingko yang paling terkenal dibuat di Semarang. Ini menyebabkan banyak orang yang mengira bahwa wingko juga berasal dari kota ini. Meskipun demikian, wingko babat sebenarnya berasal dari Babat, daerah kecil di Lamongan, Jawa Timur atau titik persimpangan Bojonegoro, Jombang, Tuban, dan Surabaya.
Wingko memiliki peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah Lamongan. Ada banyak perusahaan penghasil wingko yang memperkerjakan banyak orang. Kelapa yang digunakan untuk bahan wingko ini diambil dari daerah-daerah sekitar.
Dari beberapa literatur disebutkan, kehadiran wingko di Kota Semarang diawali dari suasana perang pada 1944. Wanita asal Babat, Loe Lan Hwa, bersama suaminya, The Ek Tjong, dan dua anaknya mengungsi dari kota kecil Babat ke Semarang. Untuk memenuhi kebutuhan hidup di Semarang, Loe Lan Hwa meneruskan usaha keluarganya di Babat, membuat kue wingko, yang diperolehnya dari ibunya, Djoa Kiet Nio, dan ayahnya, Loe Soe Siang.
Di Stasiun Tawang, Semarang, Loe Lan Hwa menjajakan kue wingko kepada setiap penumpang KA yang singgah. Banyak orang menyukainya dan lambat laun wingko buatannya semakin populer sebagai penganan khas Semarang. Ia pun menamainya wingko babat, sesuai daerah asalnya, dengan merek Cap Kereta Api.
Ilustrasi kereta api yang dibuat dalam kemasan wingkonya merupakan pilihan dari D Mulyono, karena ketertarikannya dengan gambar kereta api pada sampul muka buku formulir isian saran di gerbong restorasi. Pada awalnya dia menggunakan gambar kereta api dengan sebutan Cap Spoor. Tapi kemudian, sesuai perkembangan bahasa Indonesia, kata-kata Cap Spoor diganti dengan Cap Kereta Api.
Kue wingko babad cap Kereta Api buatan Loe Lan Hwa itu semakin terkenal dan dicari banyak orang untuk oleh-oleh dari Semarang. Hal ini pun lalu menarik orang lain untuk mencoba membuat kue yang sama dengan menggunakan gambar kereta api juga sebagai mereknya, walau gambarnya tidak sama seratus persen. Ada pula yang menggunakan gambar kapal laut dengan nama dan merek berbeda tentunya.
Untuk mengembangkan variasi berdasarkan selera para pelanggan, hingga Oktober 2014 setidaknya, Wingko Babad Kereta Api sudah memiliki 5 varian rasa yakni, rasa original, pisang raja, durian, coklat dan nangka. Dengan rasanya yang khas dan inovasi yang tiada henti, Wingko Babad Kereta Api berhasil mempertahankan loyalitas para pelanggannya. Lonjakan permintaan Wingko Babad Kereta Api bahkan melonjak ketika weekend dan musim liburan.
''Kalau menjelang Idul Fitri dan liburan, permintaannya selalu tinggi dan meningkat, kami pun harus cepat merespon permintaan pasar. Meski banyak muncul merek-merek wingko di Semarang, banyak konsumen memilih kami,'' ujar Nanik, karyawan wingko babad cap kereta api saat ditemui di tokonya Jl Cenderawasih 14, Kawasan Kota Lama. (KS)

Saturday, 18 June 2016

Yoyok Bambang Priyambodo, Hidup Untuk Menari, Menari Untuk Hidup


BAGI orang awam, melihat seseorang yang tengah menari adalah sebuah keindahan. Bagaimana menyelaraskan wiraga, wirama dan wirasa dalam satu harmonisasi. Bagaimana anggunnya seorang penari dalam menampilkan sebuah tarian sehingga menimbulkan decak kagum dari penonton. Manisnya senyuman seolah tidak ada suatu hal pun yang dapat membuat seorang penari merasa sedih. Lentik lenggokan dan limbai tangan. Halusnya gerakan kepala ke kanan dan ke kiri. Semua selaras dalam alunan musik.
Pernahkah kita terbersit, apa makna yang tersembunyi dari menari itu. Mengapa menari tidak indah jika tidak menggabungkan keempat poin yaitu wiraga, wirama, wirasa dan harmonisasi?
Bagi Yoyok Bambang Priyambodo, bapak tiga anak kelahiran Semarang 25 April 1966 menjelaskan, dalam diri seorang penari, percaya diri yang tinggi wajib dimiliki. Badan pun menjadi sehat karena banyak olah raga saat menari.
Pemilik Sanggar Greget itu pun mengisahkan pengalamannya menjadi penari yang tak hanya dikenal di seantero negeri. Darah tari yang mengalir dari kedua orangtuanya telah membuatnya untuk terus melestarikan tari. Bahkan, dengan tari, Yoyok pun mengaku bisa "hidup". Oleh orangtuanya, Yoyok kecil dilatih secara khusus dengan mengundang guru tari terkenal pada masa itu. Maridi, S Pamardi dari Solo, Sawitri dari Cirebon dan Sunarno Skar.
''Ketika duduk di bangku SD, saya pun sudah ikut Porseni. Karena menang, dikirim oleh sekolah sebagai duta seni. Pada 1979 masa pemerintahan Presiden Soeharto, saya juga mendapat kehormatan untuk menari di istana merdeka. Mulai itulah, saya mulai serius dengan tari. Karena, dalam tari tidak hanya sekedar gerak, tetapi juga harus mengerti musik, berteater, gamelan dan tata rias wajah,'' tuturnya saat ditemui di Sanggar Greget Jalan Pamularsih I, Nomor 2 G, Barusari, Semarang Barat.
Nama Yoyok pun mulai dikenal. Undangan untuk mengajar tari secara privat hingga tampil dalam acara-acara pun tidak pernah berhenti sampai kini. Untuk sekali tampil, awalnya Yoyok mematok Rp 2,5 juta. Kini, untuk tampil menari, ia mematok mulai Rp 10 juta hingga Rp 15 juta.
''Tari yang kita jalani secara profesional, serius dan disiplin bisa mencukupi hidup. Hidup untuk menari dan menari untuk hidup. Dan sampai saat ini, saya juga mengajar tari di sanggar Greget. Setiap sore pesertanya mulai anak-anak hingga dewasa. Dan agar tari tetap lestari, tentu harus ada kreasi-kreasi dan pengembangan,'' jelasnya.
Yoyok berharap, untuk melestarikan agar tari tetap lestari dan berkembang, butuh perhatian semua pihak, mulai dari masyarakat, seniman hingga pemerintah. Mengembalikan seni tari masuk kembali ke kurikulum pendidikan juga harus direalisasikan. Selain itu, ia juga berharap, seni tari harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
''Seni jalanan yang ada di perempatan lampu merah seharusnya mendapat perhatian pemerintah. Seni pun terlihat menjadi murahan. Mereka itu hanya sekedar menabuh dan berlenggak-lenggok. Kalau mereka dilatih, dan diberi tempat, tentu akan menaikkelaskan seni tari itu sendiri,'' harapnya.
Yoyok pun melihat, gedung kesenian yang ada di Kota Semarang selama ini beralih fungsi dan lebih banyak menjadi tempat untuk menggelar pernikahan. Sehingga, ketika kegiatan khusus untuk seni, tergeser dan tidak memiliki ruang yang tepat. Pemerintah pun diharapkan Yoyok untuk membuat aturan agar memberikan prosentase tayangan seni.
''Intinya, pemerintah harus membuat gedung khusus yang tidak tercampur dengan kegiatan lain. Agar kesenian bisa terus hidup. Seniman, pemerintah dan masyarakat perlu duduk bersama untuk fokus pada masalah ini,'' tandasnya. (KS)

Biodata :

Nama : Yoyok Bambang Priyambodo
Tempat Tanggal Lahir : Semarang, 25 April 1966

Prestasi :
1. Terbaik I dalam Festival Walisongo Surabaya komposisi Warak Dugder
2. Terbaik I dalam Festival Budaya Khatam Qur'an III Tingkat Nasional pada 1999
3. Duta Seni ke Swiss, Jepang, Inggris, Suriname, Belanda, Spanyol, Singapura, dan Australia

Pekerjaan :
Pemilik Sanggar Greget

Sejarah Payung


PAYUNG telah tercipta sekitar 4000 tahun yang lalu. Bukti ini dapat dilihat pada karya seni dan artefak-artekak kuno yang ditemukan di Mesir, Syria, Yunani dan Cina. Pada mulanya payung atau umbrella atau parasol digunakan sebagai tabir surya. Kemudian orang Cina mengembangkan payung tahan air untuk pelindung dari hujan. Mereka melapisi payung dengan lilin sehingga menjadi tahan air.
Kata payung/umbrella sendiri berasal dari kata "umbra" yang berakar dari bahasa latin yang artinya bayang-bayang (In Sundanesse: Kalangkang). Pada awal abad 16, payung menjadi populer dibarat terutama di negera-negara eropa utara pada saat musim hujan.
Pada awalnya payung dianggap sebagai aksesori yang hanya cocok bagi perempuan. Adalah seorang pengembara dan penulis dari Persia bernama Jonas Hanway (1712-1786) membawa dan mempergunakan payung di depan umum di Inggris, ia pula yang mempulerkan penggunaan payung di kalangan laki-laki.
Para laki-laki Inggris kerap menyebut payung dengan sebutan "hanway", mengambil kata dari yang mempopulerkannya.
Toko payung pertama kali berdiri di Kota London Inggris "James Smith and Sons. Toko itu sampai sekarang masih berdiri dan masih terletak di Jalan 53 New Oxford St, di London, England. Pada awalnya payung eropa terbuat dari kayu atau tulang pausdan tudungnya terbuat dari alpaca atau kanvas berminyak.
Sedangkan pegangan lengkungnya terbuat dari kayu eboni.
Pada tahun 1852, Samuel Fox menemukan desain payung berangka baja, Fox pula yang mendirikan "English Steels Company" di Inggris. Kemudian pada 8 Agustus 1885 seorang keturunan Afrika-Amerika mempatenkan alat penaruh payung seperti pada gambar dibawah ini.
Sudah menjadi pengetahuan umum kita bersama bahwa pada bulan-bulan akhir tahun biasanya curah hujan lebih besar dibanding bulan-bulan pada awal tahun. Jika melihat atau terkena hujan masyarkaat selalu mencari benda yang satu ini. Dialah umbrella atau payung berasal dari kata "umbra", dalam bahasa Latin yang artinya bayangan.
Sekarang payung sudah dimodifikasi sedemikian rupa, dan dapat dipakai oleh siapa saja. Tidak ada lagi perbedaan antara payung untuk lelaki dan untuk perempuan. Sediakan payung sebelum mendung. Karena jika hujan turun, payung bisa digunakan untuk melindungi diri dari curahan hujan. Dan jika mendung berubah menjadi panas, payung juga bisa digunakan untuk melindungi diri dari sengatan matahari.
Bentuk payung pun beragam. Payung Superbrella, bentuknya yang hampir menutupi seluruh sisi badan. Dibuat dari lima payung transparan yang satu berbentuk layaknya payung biasa sedangkan empat sisanya mengelilingi badan. Keempat payung ini disatukan oleh tangkai yang tidak akan mengganggu gerak tubuh.
Ada pula Payung Inside-Out yang bisa langsung ditutup dan seketika menjadi tas mungil. Bahkan saat masuk rumah membawa payung ini tidak perlu khawatir air yang akan menetes, karena payung ini langsung bisa menyimpan sisa air hujan di bagian dalam tas. Ada pula payung tandem, dua payung yang dijadikan satu.
''Bentuk payung memang beragam, kesimpelan dan warna-warna yang menarik kini tak hanya menjadi pelindung hujan dan teriknya sinar matahari, tetapi juga sudah masuk dalam salah satu pendukung fashion,'' ujar Dian Pelangi, desainer muda lulusan Ecole Superieur des Arts et Techniques de la Mode (ESMOD) pada 2008.
Ya, payung kini banyak digunakan sebagai aksesoris dalam berbagai kegiatan fashion, apakah itu fashion show, photo session, iklan, dan lain-lain. Payung seringkali difungsikan menjadi properti pemanis yang membuat gambar terlihat lebih glamour dan elegan.
Selain itu, kata dia, payung kini juga difungsikan sebagai media promosi untuk perusahaan. Payung yang merupakan media bergerak, dianggap sangat menguntungkan sebagai media promosi. Selain itu, beriklan di dalam payung juga bebas pajak. Karena itulah, fungsi payung sebagai media promosi kini sudah tidak terhindarkan lagi. (KS)

Sejarah Kampung Pederesan Besar dan Pederesan Kecil


PENAMAAN suatu daerah, tempat atau jalan yang dikenal sebagai toponim, sudah dikenal masyarakat sejak awal keberadaannya. Kata toponim berasal dari bahasa Yunani topos dan nomos. Topos berarti tempat, sedangkan nomos berarti nama. Sehingga, pengertian toponim adalah nama suatu tempat. Dalam perkembangan selanjutnya, pengertian toponim tidak hanya pada nama suatu tempat  tetapi lebih luas yaitu pada upaya untuk mencari asal-usul, arti, penggunaan, dan tipologi nama suatu tempat/daerah.
Kajian tentang toponim sangat erat dengan kajian sejarah. Latar belakang penamaan suatu tempat/daerah tentu tidak lepas dari proses menemukan hal-hal yang khas yang dapat menjadi identitas suatu tempat/daerah. Toponim mampu memberikan gambaran mengenai latar belakang  dinamika masyarakat dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di suatu tempat yang ingin diabadikan atau diingat oleh masyarakat. Pelacakan  toponim tempat /daerah mempunyai peran dalam menelusur latar belakang kesejarahan dan aktivitas  atau kondisi awal saat tempat/daerah itu terbentuk.
Semarang sebagai salah satu kota besar di Indonesia memiliki banyak perkampungan yang lahir atau bahkan menjadi embrio kota. Kampung-kampung kuno di Semarang selain mencerminkan aktivitas masyarakat penghuninya, juga mencerminkan beragam etnis yang mencari penghidupan di Semarang, seperti etnis Arab, Cina, Melayu, Banjar dan lain sebagainya. Dari nama kampung-kampung kuno, yang telah terbentuk jauh sebelum keberadaan kota Semarang, dapat dilacak sejarahnya dari kampung tersebut.
Misalnya Kampung Batik sebagai tempat perajin batik, Pedamaran sebagai tempat perdagangan damar/bahan pewarna batik, Sayangan sebagai tempat perajin alat-alat rumah tangga dari logam/tembaga, Petudungan, tempatnya perajin caping, Kulitan sebagai tempat perajin/pengusaha kulit), Gendingan sebagai tempat pembuat gamelan, Pendrikan yang sebelumnya merupakan lahan milik Tuan Frederick dan sebagainya.
Salah satu kampung kuno di Kota Semarang yang saya telusuri adalah Kampung Deresan atau Pederesan. Dalam buku Riwayat Semarang yang ditulis oleh editor Mimbar Melajoe, sebuah media sastra bulanan yang terbit di Semarang, Liem Thian Joe menyebutkan, sebelum menjadi Kampung Pederesan Kecil dan Pederesan Besar, kampung yang ada di Jalan MT Haryono itu sebelumnya bernama Kampung Deresan.
Penduduk di kampung itu, menurut Liem, banyak yang membuat gula aren dengan menderes pohon aren yang waktu itu banyak tumbuh di kawasan itu. Ketika kampung itu menjadi semakin ramai dan padat penduduknya, kampung itupun dipecah menjadi dua bersamaan dengan pohon aren yang harus ditebang untuk tempat tinggal. Penduduk di kampung itu pun tidak lagi mengandalkan usahanya pembuat gula dan menderes aren.
Berbeda dengan penuturan sesepuh Kampung Pederesan Kecil RT 1 RW 3, Suhartono (72) yang juga pensiunan staf Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi Jawa Tengah. Menurutnya, nama Kampung Pederesan yang ia dapat dari cerita ayahnya, almarhum Niti Atmojo, bukan berasal dari banyaknya warga yang bekerja sebagai pembuat gula dan tumbuh lebatnya pohon aren maupun kebiasaan warga menderes aren.
''Menurut cerita bapak saya, di kampung ini dulu sering banyak anak-anak yang mengaji atau tadarus (nderes-Bahasa Jawa) Alquran. Dari kata tadarus inilah yang kemudian menjadi nama nderes, deresan dan pederesan, karena dulu mayoritas masyarakat disini adalah muslim,'' tutur bapak dua anak dan dua cucu itu saat ditemui di kediamannya.
Meski tidak ada tanda atau prasasti terkait asal muasal nama kampung, Suhartono menyebutkan, salah satu tokoh Islam yang dikenal sebagai guru mengaji di kampung itu pada masa lalu, yakni ustad Sa'ad. Keberadaan dua mushala Ar Rofi' di Kampung Pederesan Kecil maupun mushala Nurul Qomar di Pederesan Besar pun menurutnya bukanlah bangunan lama dan saksi bisu sejarah disebutnya kampung itu sebagai kampungnya kaum sarungan yang aktif mengaji atau tadarus Alquran.
''Kalau yang masih menjadi ciri khas kampung ini adalah masih adanya rumah khas semarangan yang biasa disebut rumah Doro Petak. Disebut Doro Petak karena bentuknya mirip dengan kandang burung dara,'' jelasnya.
Kampung Pederesan Besar dan Pederesan Kecil sendiri, kata Suhartono, saat ini tidak hanya dihuni warga asli Jawa saja, tetapi 50 persen merupakan warga keturunan Tionghoa. Kehidupan kampung yang masih menjunjung tinggi kebersamaan itu sampai hari ini pun tetap dilestarikan dan terus dijaga.
Sementara itu menurut sejarawan Undip Dewi Yuliati, dari kesaksian Liem Thian Joe-lah yang menurutnya nama Kampung Pederesan lebih tepat karena Liem merupakan pelaku sejarah dan mencermati nama kampung berdasarkan toponim.
''Kampung Deresan atau Pederesan itu kan sudah ada ketika Liem Thian Joe menulis buku itu pada 1931 seiring terbentuknya Semarang sebagai wilayah administrasi kota. Nama kampung di Kota Semarang ini kan cenderung diambil dari mata pencaharian atau profesi penduduknya. Misalnya saja, kampung Batik yang mayoritas warganya sebagai perajin batik, Sayangan sebagai tempat perajin alat-alat rumah tangga dari logam/tembaga, Petudungan, tempatnya perajin caping,'' papar Dewi Yuliati. (KS)

Friday, 17 June 2016

Jejak Masjid Agung Demak, Dari Pesan Ibadah hingga Kunci Hidup Bermasyarakat


MASJID, dalam Bahasa Arab, berasal dari kata sajada yang artinya bersujud, namun, kata masjid tidak murni berasal dari bentukan kata sajada. Dalam ilmu nahwu (tata bahasa Arab), bentuk maf’al (tempat melakukan perbuatan) dari kata sajada adalah masjadun, yang berarti tempat sujud.
Kata sajadah dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai alas sholat. Kata ini berasal dari Bahasa Arab, sajjaadatun yang merupakan kata benda tunggal dalam bahasa Arab, dan bentuk jamaknya sajaajid, yang artinya tempat sujud.
Lepas dari asal kata, sejak jaman dahulu, masjid tak hanya digunakan sebagai tempat shalat saja. Akan tetapi menjadi tempat bermusyawarah membahas persoalan sosial kemasyarakatan, ibadah, pendidikan, kegiatan masyarakat dan dakwah.
Seperti yang dilakukan oleh Raden Patah, sultan pertama Kesultanan Demak yang mendirikan masjid sebagai basis berkumpulnya Wali Songo dalam rangka menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Masjid yang dibangun pada 1466 itu merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini memiliki nilai historis yang sangat penting bagi perkembangan Islam di tanah air, tepatnya pada masa Kesultanan Demak Bintoro.
Banyak masyarakat memercayai masjid  ini sebagai tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam, yang lebih dikenal dengan sebutan Wali Songo (Wali Sembilan). Para wali ini sering berkumpul untuk beribadah, berdiskusi tentang penyebaran agama Islam, dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada penduduk sekitar. Oleh karenanya, masjid ini bisa dianggap sebagai monumen hidup penyebaran Islam di Indonesia dan bukti kemegahan Kesultanan Demak Bintoro.
Dari beragam sumber, Masjid Agung Demak didirikan dalam tiga tahap. Sebelum dibangun menjadi masjid pada 1466, masih berupa bangunan Pondok Pesantren Glagahwangi di bawah asuhan Sunan Ampel. Pada 1477, masjid dibangun  kembali sebagai masjid Kadipaten Glagahwangi Demak. Kemudian, pada 1478, saat Raden Fatah diangkat sebagai Sultan I Demak, masjid direnovasi dengan penambahan tiga trap. Raden Fatah bersama Walisongo memimpin proses pembangunan masjid ini dan dibantu masyarakat sekitar.
Para wali saling membagi tugasnya masing-masing dan menggarap soko guru yang menjadi tiang utama penyangga masjid. Namun, ada empat wali yang secara khusus memimpin pembuatan soko guru. Mereka adalah Sunan Bonang memimpin membuat soko guru di bagian Barat Laut, Sunan Kalijaga membuat soko guru di bagian Timur Laut, Sunan Ampel  membuat soko guru di bagian Tenggara, dan Sunan Gunung Jati membuat soko guru di sebelah Barat Daya.
Masjid Agung Demak juga memiliki keistimewaan berupa arsitektur khas ala Nusantara. Dengan atap limas bersusun tiga yang berbentuk segitiga sama kaki membuat masjid ini berbeda dengan umumnya atap masjid di Timur Tengah yang lebih terbiasa dengan bentuk kubah.
Atap limas bersusun tiga itu memiliki bahwa seorang beriman perlu menapaki tiga tingkatan penting dalam keberagamaannya, iman, Islam, dan ihsan. Lima  buah pintu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lain, bermakna lima rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Sementara itu, enam buah jendela, yang juga memiliki makna rukun iman, yaitu percaya  kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari  kiamat, dan qadha-qadar-Nya.
Pengurus Takmir Masjid Agung Demak Kuswinarno menjelaskan, pada pintu masuk utama terdapat "Pintu Bledheg", pintu yang konon diyakini mampu menangkal petir itu merupakan ciptaan Ki Ageng Selo. Peninggalan itu merupakan prasasti "Condro Sengkolo" yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H. Mihrab atau tempat pengimaman, terdapat hiasan gambar bulus yang merupakan prasasti "Condro Sengkolo".
''Prasasti ini memiliki arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti, bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M (hasil perumusan Ijtihad). Di depan Mihrab sebelah kanan terdapat mimbar untuk khotbah. Benda arkeolog ini dikenal dengan sebutan Dampar Kencono warisan dari Majapahit,'' tuturnya.

Dijelaskan pula, diatas mimbar juga terdapat ukiran yang dimaknai sebagai simbol unsur sifat kehidupan, air, bumi, api, matahari, angin, petir, bulan dan bintang. Pesan yang terkandung, kata Kuswinarno, pemimpin atau manusia sejatinya harus menjadi pijakan dan pemaaf terhadap kesalahan, jangan hanya melipat tangan, tapi juga harus ikut menyisingkan lengan baju, menjadi penenang, penentram, penegak hukum yang jurdil, menjauhkan watak emban cindhe emban siladan, menjadi suri tauladan dan penunjuk bagi rakyatnya serta menjauhkan perasaan adigang adigung adiguna, serta memiliki sifat tegar terhadap pendiriannya.
Ketua Umum Takmir Masjid Agung Demak KH Mohammad Asyiq juga menuturkan, jejak Walisongo yang hingga kini masih dilestarikan diantaranya, perayaan Grebeg Besar yang berlangsung setiap 10 Dzulhijah saat Idul Adha. Perayaan itu selalu dimeriahkan dengan karnaval kirap budaya yang dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak hingga ke Makam Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Kadilangu, yang menempuh perjalanan sekitar 2 kilometer.
''Prosesi lainnya, ziarah ke makam sultan-sultan Demak, Sunan Kalijaga, Pasar Malam Rakyat di Tembiring Jogo Indah, Selamatan Tumpeng Sanga, shalat Idul Adha, Kirab Budaya dan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga (Kutang Ontokusuma dan Keris Kyai Crubuk),'' tutur mantan Wakil Bupati Demak itu.
Ditambahkan, selain perayaan, ajaran kehidupan para Wali Songo hingga kini juga terus ditanamkan kepada seluruh masyarakat adalah keutamaan menjungnjung kebersamaan dan perdamaian.
Kiai Asyiq, sapaan KH Muhammad Asyiq, mencontohkan, beberapa bentuk kebersamaan di dalam masyarakat yang hingga kini masih dilestarikan diantaranya dengan tahlilan dan menghormati warga Hindu dengan tidak menyembelih sapi. (KS)

Masjid Jami Pekojan, Pertahankan Ukiran Bulan Sabit dan Pohon Bidara


LANTUNAN azan terdengar dari sebuah menara yang tidak terlalu tinggi. Beberapa pekerja seperti kuli panggul, tukang becak, maupun karyawan perkantoran yang ada di sepanjang Jalan Pekojan itu pun bergegas memasuki sebuah gang. Setelah memasuki gang bernama Petolongan yang memiliki jalan dengan lebar kurang dari lima meter itu berdiri megah sebuah masjid.
Dari jalan kecil dengan lalu lalang tukang becak yang mengantar penumpang, masjid itu terlihat biasa saja, sama dengan masjid-masjid yang ada di daerah lainnya. Namun, setelah memasuki pintu gerbang, beberapa nisan berada di kanan kiri gerbang dan di depan serambi. Pohon bidara nampak berdiri kokok di samping kiri gerbang. Sementara di depan serambi, hanya ada empat pohon bidara yang masih kecil.
Memasuki ruang utama seluas 10 x 10 meter itu masih terjaga keasliannya. Meski serambi terlihat lebih megah, namun tak mengalahkan bangunan berarsitektur kuno yang lebih tinggi dari bangunan baru. Tembok tebal, daun pintu tinggi yang terbuat dari kayu jati terukir bentuk kipas sederhana, jendela kecil dengan kaca patri berbentuk bunga, jendela dengan hiasan teralis bunga dari besi masih terawat baik.
Meski telah mengalami banyak renovasi, namun banyak benda kuno yang masih bisa temukan di ruang utama masjid. Seperti mimbar masjid yang dari kayu jati dan sangat kuno, diatas imam terdapat ukiran bintang dan bulan sabit yang merupakan ciri khas masjid zaman dulu, serta jam kuno di tempel di beberapa bagian dinding masjid. Mengamati prasati yang ditemukan menempel di dinding yang ada di dalam masjid itu tertulis, bahwa masjid itu dibangun pada 1309 Hijriah atau 1878 Masehi.
Imam Besar Masjid Jami Pekojan KH Idris Muhammad (72) menuturkan, asal muasal masjid yang ada di Jalan Petolongan 1 itu sebelumnya adalah mushala kecil. Namun oleh enam tokoh keturunan Pakistan merubah mushola kecil menjadi masjid yang memiliki arsitektur mirip dengan Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman.
''Dalam prasasti tertulis tahun dibangunnya masjid, mereka adalah H Muhammad Ali, H Muhammad Asyari Akhwan, H Muhammad Yakub, Alhadi Ahmad, H Muhammad Nur dan H Yakub. Masjid ini dulunya hampir semuanya di kelilingi makam, beberapa sudah dipindah dan yang masih ada tetap dirawat, karena makam yang ada di depan masjid ini merupakan keturunan dari Nabi Muhammad Saw, yakni Syarifah Fatimah binti Syekh Abu Bakar,'' tuturnya.
Mbah Idris, sapaan karab KH Idris Muhammad juga menjelaskan, selain bangunan asli dan makam, di sebelah kiri dan depan serambi juga berdiri pohon Bidara yang berumur 100 tahun lebih. Oleh masyarakat sekitar, daun bidara yang dicampur dengan air itu, sering digunakan untuk memandikan jenazah.
''Anak kecil yang terkena cacingan, diberi buah bidara pun bisa sembuh. Bahkan untuk penyakit lainnya. Maka tidak heran, dari mulut ke mulut, warga baik dari Semarang maupun luar daerah sering datang kesini untuk meminta buah atau daunnya,'' papar warga Jl Petolongan No 1 RT 1 RW 4 itu.
Karena dianggap mujarab, tidak sedikit masyarakat yang ingin membuat bibit dengan cara mencangkok. Namun, ketika dibawa pulang ke rumah dan ditanam, pohon itu tidak tumbuh. ''Pak H Soemarmo saja pernah datang dan mencangkok pohon itu, tapi saat ditanam kembali tidak bisa tumbuh,'' tandas bapak tujuh putra dan 22 cucu itu.
Pengurus Takmir Masjid Jami Pekojan, H Ngatiman menambahkan, saat ini salah satu masjid tua di Semarang itu telah mengalami banyak renovasi, terakhir kali masjid itu direnovasi secara besar-besaran pada 1975-1980. Menurut dia, ada kekhasan yang dihafal masyarakat Semarang dan sekitarnya mengenal Masjid Jami Pekojan saat bulan ramadan seperti saat ini, yakni takjil Bubur India. Biasanya masyarakat datang mendatangi masjid ini saat ramadan pada sore hari sekitar pukul 16.30.
''Selain bubur India,  ada banyak kegiatan yang diadakan takmir masjid untuk mengisi kegiatan Ramadan. Ada pengajian jelang berbuka puasa, tadarus Alquran, empat atau tiga hari sekali ada ceramah dari imam masjid,'' katanya, kemarin. (KS)