Followers

Friday, 24 June 2016

Perjalanan Wingko Babat Dari Lamongan, Kini Kuasai Pasar Semarang


Sejak perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS membuka jalur kereta api Surabaya-Semarang pada 1900-1924, Babat menjadi salah satu daerah penting di pelintasan kereta api sisi utara Jawa. Berkat akses yang terbuka, kue wingko khas Babat pun melegenda hingga Semarang.

YA, wingko memang lebih banyak dikenal di Semarang daripada di kota asalnya, Babat, Lamongan, Jawa Timur. Hal ini bisa terjadi tidak lepas dari "perjalanan panjangnya" menuju Semarang menjelang kemerdekaan RI.
Wingko merupakan sejenis kue yang terbuat dari kelapa muda, tepung beras ketan dan gula. Wingko sangat terkenal di pantai utara pulau Jawa. Kue ini sering dijual di stasiun kereta api, stasiun bus atau juga di toko-toko kue untuk oleh-oleh keluarga.
Wingko biasanya berbentuk bundar, biasa disajikan dalam keadaan hangat dan dipotong kecil-kecil. Wingko dapat dijual dalam bentuk bundar yang besar atau juga berupa kue-kue kecil yang dibungkus kertas. Kombinasi gula dan kelapa menjadikan kue ini nikmat. Harga kue ini dapat bervariasi tergantung tempat menjualnya dan merek wingko ini.
Wingko yang paling terkenal dibuat di Semarang. Ini menyebabkan banyak orang yang mengira bahwa wingko juga berasal dari kota ini. Meskipun demikian, wingko babat sebenarnya berasal dari Babat, daerah kecil di Lamongan, Jawa Timur atau titik persimpangan Bojonegoro, Jombang, Tuban, dan Surabaya.
Wingko memiliki peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah Lamongan. Ada banyak perusahaan penghasil wingko yang memperkerjakan banyak orang. Kelapa yang digunakan untuk bahan wingko ini diambil dari daerah-daerah sekitar.
Dari beberapa literatur disebutkan, kehadiran wingko di Kota Semarang diawali dari suasana perang pada 1944. Wanita asal Babat, Loe Lan Hwa, bersama suaminya, The Ek Tjong, dan dua anaknya mengungsi dari kota kecil Babat ke Semarang. Untuk memenuhi kebutuhan hidup di Semarang, Loe Lan Hwa meneruskan usaha keluarganya di Babat, membuat kue wingko, yang diperolehnya dari ibunya, Djoa Kiet Nio, dan ayahnya, Loe Soe Siang.
Di Stasiun Tawang, Semarang, Loe Lan Hwa menjajakan kue wingko kepada setiap penumpang KA yang singgah. Banyak orang menyukainya dan lambat laun wingko buatannya semakin populer sebagai penganan khas Semarang. Ia pun menamainya wingko babat, sesuai daerah asalnya, dengan merek Cap Kereta Api.
Ilustrasi kereta api yang dibuat dalam kemasan wingkonya merupakan pilihan dari D Mulyono, karena ketertarikannya dengan gambar kereta api pada sampul muka buku formulir isian saran di gerbong restorasi. Pada awalnya dia menggunakan gambar kereta api dengan sebutan Cap Spoor. Tapi kemudian, sesuai perkembangan bahasa Indonesia, kata-kata Cap Spoor diganti dengan Cap Kereta Api.
Kue wingko babad cap Kereta Api buatan Loe Lan Hwa itu semakin terkenal dan dicari banyak orang untuk oleh-oleh dari Semarang. Hal ini pun lalu menarik orang lain untuk mencoba membuat kue yang sama dengan menggunakan gambar kereta api juga sebagai mereknya, walau gambarnya tidak sama seratus persen. Ada pula yang menggunakan gambar kapal laut dengan nama dan merek berbeda tentunya.
Untuk mengembangkan variasi berdasarkan selera para pelanggan, hingga Oktober 2014 setidaknya, Wingko Babad Kereta Api sudah memiliki 5 varian rasa yakni, rasa original, pisang raja, durian, coklat dan nangka. Dengan rasanya yang khas dan inovasi yang tiada henti, Wingko Babad Kereta Api berhasil mempertahankan loyalitas para pelanggannya. Lonjakan permintaan Wingko Babad Kereta Api bahkan melonjak ketika weekend dan musim liburan.
''Kalau menjelang Idul Fitri dan liburan, permintaannya selalu tinggi dan meningkat, kami pun harus cepat merespon permintaan pasar. Meski banyak muncul merek-merek wingko di Semarang, banyak konsumen memilih kami,'' ujar Nanik, karyawan wingko babad cap kereta api saat ditemui di tokonya Jl Cenderawasih 14, Kawasan Kota Lama. (KS)

Saturday, 18 June 2016

Yoyok Bambang Priyambodo, Hidup Untuk Menari, Menari Untuk Hidup


BAGI orang awam, melihat seseorang yang tengah menari adalah sebuah keindahan. Bagaimana menyelaraskan wiraga, wirama dan wirasa dalam satu harmonisasi. Bagaimana anggunnya seorang penari dalam menampilkan sebuah tarian sehingga menimbulkan decak kagum dari penonton. Manisnya senyuman seolah tidak ada suatu hal pun yang dapat membuat seorang penari merasa sedih. Lentik lenggokan dan limbai tangan. Halusnya gerakan kepala ke kanan dan ke kiri. Semua selaras dalam alunan musik.
Pernahkah kita terbersit, apa makna yang tersembunyi dari menari itu. Mengapa menari tidak indah jika tidak menggabungkan keempat poin yaitu wiraga, wirama, wirasa dan harmonisasi?
Bagi Yoyok Bambang Priyambodo, bapak tiga anak kelahiran Semarang 25 April 1966 menjelaskan, dalam diri seorang penari, percaya diri yang tinggi wajib dimiliki. Badan pun menjadi sehat karena banyak olah raga saat menari.
Pemilik Sanggar Greget itu pun mengisahkan pengalamannya menjadi penari yang tak hanya dikenal di seantero negeri. Darah tari yang mengalir dari kedua orangtuanya telah membuatnya untuk terus melestarikan tari. Bahkan, dengan tari, Yoyok pun mengaku bisa "hidup". Oleh orangtuanya, Yoyok kecil dilatih secara khusus dengan mengundang guru tari terkenal pada masa itu. Maridi, S Pamardi dari Solo, Sawitri dari Cirebon dan Sunarno Skar.
''Ketika duduk di bangku SD, saya pun sudah ikut Porseni. Karena menang, dikirim oleh sekolah sebagai duta seni. Pada 1979 masa pemerintahan Presiden Soeharto, saya juga mendapat kehormatan untuk menari di istana merdeka. Mulai itulah, saya mulai serius dengan tari. Karena, dalam tari tidak hanya sekedar gerak, tetapi juga harus mengerti musik, berteater, gamelan dan tata rias wajah,'' tuturnya saat ditemui di Sanggar Greget Jalan Pamularsih I, Nomor 2 G, Barusari, Semarang Barat.
Nama Yoyok pun mulai dikenal. Undangan untuk mengajar tari secara privat hingga tampil dalam acara-acara pun tidak pernah berhenti sampai kini. Untuk sekali tampil, awalnya Yoyok mematok Rp 2,5 juta. Kini, untuk tampil menari, ia mematok mulai Rp 10 juta hingga Rp 15 juta.
''Tari yang kita jalani secara profesional, serius dan disiplin bisa mencukupi hidup. Hidup untuk menari dan menari untuk hidup. Dan sampai saat ini, saya juga mengajar tari di sanggar Greget. Setiap sore pesertanya mulai anak-anak hingga dewasa. Dan agar tari tetap lestari, tentu harus ada kreasi-kreasi dan pengembangan,'' jelasnya.
Yoyok berharap, untuk melestarikan agar tari tetap lestari dan berkembang, butuh perhatian semua pihak, mulai dari masyarakat, seniman hingga pemerintah. Mengembalikan seni tari masuk kembali ke kurikulum pendidikan juga harus direalisasikan. Selain itu, ia juga berharap, seni tari harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
''Seni jalanan yang ada di perempatan lampu merah seharusnya mendapat perhatian pemerintah. Seni pun terlihat menjadi murahan. Mereka itu hanya sekedar menabuh dan berlenggak-lenggok. Kalau mereka dilatih, dan diberi tempat, tentu akan menaikkelaskan seni tari itu sendiri,'' harapnya.
Yoyok pun melihat, gedung kesenian yang ada di Kota Semarang selama ini beralih fungsi dan lebih banyak menjadi tempat untuk menggelar pernikahan. Sehingga, ketika kegiatan khusus untuk seni, tergeser dan tidak memiliki ruang yang tepat. Pemerintah pun diharapkan Yoyok untuk membuat aturan agar memberikan prosentase tayangan seni.
''Intinya, pemerintah harus membuat gedung khusus yang tidak tercampur dengan kegiatan lain. Agar kesenian bisa terus hidup. Seniman, pemerintah dan masyarakat perlu duduk bersama untuk fokus pada masalah ini,'' tandasnya. (KS)

Biodata :

Nama : Yoyok Bambang Priyambodo
Tempat Tanggal Lahir : Semarang, 25 April 1966

Prestasi :
1. Terbaik I dalam Festival Walisongo Surabaya komposisi Warak Dugder
2. Terbaik I dalam Festival Budaya Khatam Qur'an III Tingkat Nasional pada 1999
3. Duta Seni ke Swiss, Jepang, Inggris, Suriname, Belanda, Spanyol, Singapura, dan Australia

Pekerjaan :
Pemilik Sanggar Greget

Sejarah Payung


PAYUNG telah tercipta sekitar 4000 tahun yang lalu. Bukti ini dapat dilihat pada karya seni dan artefak-artekak kuno yang ditemukan di Mesir, Syria, Yunani dan Cina. Pada mulanya payung atau umbrella atau parasol digunakan sebagai tabir surya. Kemudian orang Cina mengembangkan payung tahan air untuk pelindung dari hujan. Mereka melapisi payung dengan lilin sehingga menjadi tahan air.
Kata payung/umbrella sendiri berasal dari kata "umbra" yang berakar dari bahasa latin yang artinya bayang-bayang (In Sundanesse: Kalangkang). Pada awal abad 16, payung menjadi populer dibarat terutama di negera-negara eropa utara pada saat musim hujan.
Pada awalnya payung dianggap sebagai aksesori yang hanya cocok bagi perempuan. Adalah seorang pengembara dan penulis dari Persia bernama Jonas Hanway (1712-1786) membawa dan mempergunakan payung di depan umum di Inggris, ia pula yang mempulerkan penggunaan payung di kalangan laki-laki.
Para laki-laki Inggris kerap menyebut payung dengan sebutan "hanway", mengambil kata dari yang mempopulerkannya.
Toko payung pertama kali berdiri di Kota London Inggris "James Smith and Sons. Toko itu sampai sekarang masih berdiri dan masih terletak di Jalan 53 New Oxford St, di London, England. Pada awalnya payung eropa terbuat dari kayu atau tulang pausdan tudungnya terbuat dari alpaca atau kanvas berminyak.
Sedangkan pegangan lengkungnya terbuat dari kayu eboni.
Pada tahun 1852, Samuel Fox menemukan desain payung berangka baja, Fox pula yang mendirikan "English Steels Company" di Inggris. Kemudian pada 8 Agustus 1885 seorang keturunan Afrika-Amerika mempatenkan alat penaruh payung seperti pada gambar dibawah ini.
Sudah menjadi pengetahuan umum kita bersama bahwa pada bulan-bulan akhir tahun biasanya curah hujan lebih besar dibanding bulan-bulan pada awal tahun. Jika melihat atau terkena hujan masyarkaat selalu mencari benda yang satu ini. Dialah umbrella atau payung berasal dari kata "umbra", dalam bahasa Latin yang artinya bayangan.
Sekarang payung sudah dimodifikasi sedemikian rupa, dan dapat dipakai oleh siapa saja. Tidak ada lagi perbedaan antara payung untuk lelaki dan untuk perempuan. Sediakan payung sebelum mendung. Karena jika hujan turun, payung bisa digunakan untuk melindungi diri dari curahan hujan. Dan jika mendung berubah menjadi panas, payung juga bisa digunakan untuk melindungi diri dari sengatan matahari.
Bentuk payung pun beragam. Payung Superbrella, bentuknya yang hampir menutupi seluruh sisi badan. Dibuat dari lima payung transparan yang satu berbentuk layaknya payung biasa sedangkan empat sisanya mengelilingi badan. Keempat payung ini disatukan oleh tangkai yang tidak akan mengganggu gerak tubuh.
Ada pula Payung Inside-Out yang bisa langsung ditutup dan seketika menjadi tas mungil. Bahkan saat masuk rumah membawa payung ini tidak perlu khawatir air yang akan menetes, karena payung ini langsung bisa menyimpan sisa air hujan di bagian dalam tas. Ada pula payung tandem, dua payung yang dijadikan satu.
''Bentuk payung memang beragam, kesimpelan dan warna-warna yang menarik kini tak hanya menjadi pelindung hujan dan teriknya sinar matahari, tetapi juga sudah masuk dalam salah satu pendukung fashion,'' ujar Dian Pelangi, desainer muda lulusan Ecole Superieur des Arts et Techniques de la Mode (ESMOD) pada 2008.
Ya, payung kini banyak digunakan sebagai aksesoris dalam berbagai kegiatan fashion, apakah itu fashion show, photo session, iklan, dan lain-lain. Payung seringkali difungsikan menjadi properti pemanis yang membuat gambar terlihat lebih glamour dan elegan.
Selain itu, kata dia, payung kini juga difungsikan sebagai media promosi untuk perusahaan. Payung yang merupakan media bergerak, dianggap sangat menguntungkan sebagai media promosi. Selain itu, beriklan di dalam payung juga bebas pajak. Karena itulah, fungsi payung sebagai media promosi kini sudah tidak terhindarkan lagi. (KS)

Sejarah Kampung Pederesan Besar dan Pederesan Kecil


PENAMAAN suatu daerah, tempat atau jalan yang dikenal sebagai toponim, sudah dikenal masyarakat sejak awal keberadaannya. Kata toponim berasal dari bahasa Yunani topos dan nomos. Topos berarti tempat, sedangkan nomos berarti nama. Sehingga, pengertian toponim adalah nama suatu tempat. Dalam perkembangan selanjutnya, pengertian toponim tidak hanya pada nama suatu tempat  tetapi lebih luas yaitu pada upaya untuk mencari asal-usul, arti, penggunaan, dan tipologi nama suatu tempat/daerah.
Kajian tentang toponim sangat erat dengan kajian sejarah. Latar belakang penamaan suatu tempat/daerah tentu tidak lepas dari proses menemukan hal-hal yang khas yang dapat menjadi identitas suatu tempat/daerah. Toponim mampu memberikan gambaran mengenai latar belakang  dinamika masyarakat dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di suatu tempat yang ingin diabadikan atau diingat oleh masyarakat. Pelacakan  toponim tempat /daerah mempunyai peran dalam menelusur latar belakang kesejarahan dan aktivitas  atau kondisi awal saat tempat/daerah itu terbentuk.
Semarang sebagai salah satu kota besar di Indonesia memiliki banyak perkampungan yang lahir atau bahkan menjadi embrio kota. Kampung-kampung kuno di Semarang selain mencerminkan aktivitas masyarakat penghuninya, juga mencerminkan beragam etnis yang mencari penghidupan di Semarang, seperti etnis Arab, Cina, Melayu, Banjar dan lain sebagainya. Dari nama kampung-kampung kuno, yang telah terbentuk jauh sebelum keberadaan kota Semarang, dapat dilacak sejarahnya dari kampung tersebut.
Misalnya Kampung Batik sebagai tempat perajin batik, Pedamaran sebagai tempat perdagangan damar/bahan pewarna batik, Sayangan sebagai tempat perajin alat-alat rumah tangga dari logam/tembaga, Petudungan, tempatnya perajin caping, Kulitan sebagai tempat perajin/pengusaha kulit), Gendingan sebagai tempat pembuat gamelan, Pendrikan yang sebelumnya merupakan lahan milik Tuan Frederick dan sebagainya.
Salah satu kampung kuno di Kota Semarang yang saya telusuri adalah Kampung Deresan atau Pederesan. Dalam buku Riwayat Semarang yang ditulis oleh editor Mimbar Melajoe, sebuah media sastra bulanan yang terbit di Semarang, Liem Thian Joe menyebutkan, sebelum menjadi Kampung Pederesan Kecil dan Pederesan Besar, kampung yang ada di Jalan MT Haryono itu sebelumnya bernama Kampung Deresan.
Penduduk di kampung itu, menurut Liem, banyak yang membuat gula aren dengan menderes pohon aren yang waktu itu banyak tumbuh di kawasan itu. Ketika kampung itu menjadi semakin ramai dan padat penduduknya, kampung itupun dipecah menjadi dua bersamaan dengan pohon aren yang harus ditebang untuk tempat tinggal. Penduduk di kampung itu pun tidak lagi mengandalkan usahanya pembuat gula dan menderes aren.
Berbeda dengan penuturan sesepuh Kampung Pederesan Kecil RT 1 RW 3, Suhartono (72) yang juga pensiunan staf Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi Jawa Tengah. Menurutnya, nama Kampung Pederesan yang ia dapat dari cerita ayahnya, almarhum Niti Atmojo, bukan berasal dari banyaknya warga yang bekerja sebagai pembuat gula dan tumbuh lebatnya pohon aren maupun kebiasaan warga menderes aren.
''Menurut cerita bapak saya, di kampung ini dulu sering banyak anak-anak yang mengaji atau tadarus (nderes-Bahasa Jawa) Alquran. Dari kata tadarus inilah yang kemudian menjadi nama nderes, deresan dan pederesan, karena dulu mayoritas masyarakat disini adalah muslim,'' tutur bapak dua anak dan dua cucu itu saat ditemui di kediamannya.
Meski tidak ada tanda atau prasasti terkait asal muasal nama kampung, Suhartono menyebutkan, salah satu tokoh Islam yang dikenal sebagai guru mengaji di kampung itu pada masa lalu, yakni ustad Sa'ad. Keberadaan dua mushala Ar Rofi' di Kampung Pederesan Kecil maupun mushala Nurul Qomar di Pederesan Besar pun menurutnya bukanlah bangunan lama dan saksi bisu sejarah disebutnya kampung itu sebagai kampungnya kaum sarungan yang aktif mengaji atau tadarus Alquran.
''Kalau yang masih menjadi ciri khas kampung ini adalah masih adanya rumah khas semarangan yang biasa disebut rumah Doro Petak. Disebut Doro Petak karena bentuknya mirip dengan kandang burung dara,'' jelasnya.
Kampung Pederesan Besar dan Pederesan Kecil sendiri, kata Suhartono, saat ini tidak hanya dihuni warga asli Jawa saja, tetapi 50 persen merupakan warga keturunan Tionghoa. Kehidupan kampung yang masih menjunjung tinggi kebersamaan itu sampai hari ini pun tetap dilestarikan dan terus dijaga.
Sementara itu menurut sejarawan Undip Dewi Yuliati, dari kesaksian Liem Thian Joe-lah yang menurutnya nama Kampung Pederesan lebih tepat karena Liem merupakan pelaku sejarah dan mencermati nama kampung berdasarkan toponim.
''Kampung Deresan atau Pederesan itu kan sudah ada ketika Liem Thian Joe menulis buku itu pada 1931 seiring terbentuknya Semarang sebagai wilayah administrasi kota. Nama kampung di Kota Semarang ini kan cenderung diambil dari mata pencaharian atau profesi penduduknya. Misalnya saja, kampung Batik yang mayoritas warganya sebagai perajin batik, Sayangan sebagai tempat perajin alat-alat rumah tangga dari logam/tembaga, Petudungan, tempatnya perajin caping,'' papar Dewi Yuliati. (KS)

Friday, 17 June 2016

Jejak Masjid Agung Demak, Dari Pesan Ibadah hingga Kunci Hidup Bermasyarakat


MASJID, dalam Bahasa Arab, berasal dari kata sajada yang artinya bersujud, namun, kata masjid tidak murni berasal dari bentukan kata sajada. Dalam ilmu nahwu (tata bahasa Arab), bentuk maf’al (tempat melakukan perbuatan) dari kata sajada adalah masjadun, yang berarti tempat sujud.
Kata sajadah dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai alas sholat. Kata ini berasal dari Bahasa Arab, sajjaadatun yang merupakan kata benda tunggal dalam bahasa Arab, dan bentuk jamaknya sajaajid, yang artinya tempat sujud.
Lepas dari asal kata, sejak jaman dahulu, masjid tak hanya digunakan sebagai tempat shalat saja. Akan tetapi menjadi tempat bermusyawarah membahas persoalan sosial kemasyarakatan, ibadah, pendidikan, kegiatan masyarakat dan dakwah.
Seperti yang dilakukan oleh Raden Patah, sultan pertama Kesultanan Demak yang mendirikan masjid sebagai basis berkumpulnya Wali Songo dalam rangka menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Masjid yang dibangun pada 1466 itu merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini memiliki nilai historis yang sangat penting bagi perkembangan Islam di tanah air, tepatnya pada masa Kesultanan Demak Bintoro.
Banyak masyarakat memercayai masjid  ini sebagai tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam, yang lebih dikenal dengan sebutan Wali Songo (Wali Sembilan). Para wali ini sering berkumpul untuk beribadah, berdiskusi tentang penyebaran agama Islam, dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada penduduk sekitar. Oleh karenanya, masjid ini bisa dianggap sebagai monumen hidup penyebaran Islam di Indonesia dan bukti kemegahan Kesultanan Demak Bintoro.
Dari beragam sumber, Masjid Agung Demak didirikan dalam tiga tahap. Sebelum dibangun menjadi masjid pada 1466, masih berupa bangunan Pondok Pesantren Glagahwangi di bawah asuhan Sunan Ampel. Pada 1477, masjid dibangun  kembali sebagai masjid Kadipaten Glagahwangi Demak. Kemudian, pada 1478, saat Raden Fatah diangkat sebagai Sultan I Demak, masjid direnovasi dengan penambahan tiga trap. Raden Fatah bersama Walisongo memimpin proses pembangunan masjid ini dan dibantu masyarakat sekitar.
Para wali saling membagi tugasnya masing-masing dan menggarap soko guru yang menjadi tiang utama penyangga masjid. Namun, ada empat wali yang secara khusus memimpin pembuatan soko guru. Mereka adalah Sunan Bonang memimpin membuat soko guru di bagian Barat Laut, Sunan Kalijaga membuat soko guru di bagian Timur Laut, Sunan Ampel  membuat soko guru di bagian Tenggara, dan Sunan Gunung Jati membuat soko guru di sebelah Barat Daya.
Masjid Agung Demak juga memiliki keistimewaan berupa arsitektur khas ala Nusantara. Dengan atap limas bersusun tiga yang berbentuk segitiga sama kaki membuat masjid ini berbeda dengan umumnya atap masjid di Timur Tengah yang lebih terbiasa dengan bentuk kubah.
Atap limas bersusun tiga itu memiliki bahwa seorang beriman perlu menapaki tiga tingkatan penting dalam keberagamaannya, iman, Islam, dan ihsan. Lima  buah pintu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lain, bermakna lima rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Sementara itu, enam buah jendela, yang juga memiliki makna rukun iman, yaitu percaya  kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari  kiamat, dan qadha-qadar-Nya.
Pengurus Takmir Masjid Agung Demak Kuswinarno menjelaskan, pada pintu masuk utama terdapat "Pintu Bledheg", pintu yang konon diyakini mampu menangkal petir itu merupakan ciptaan Ki Ageng Selo. Peninggalan itu merupakan prasasti "Condro Sengkolo" yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H. Mihrab atau tempat pengimaman, terdapat hiasan gambar bulus yang merupakan prasasti "Condro Sengkolo".
''Prasasti ini memiliki arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti, bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M (hasil perumusan Ijtihad). Di depan Mihrab sebelah kanan terdapat mimbar untuk khotbah. Benda arkeolog ini dikenal dengan sebutan Dampar Kencono warisan dari Majapahit,'' tuturnya.

Dijelaskan pula, diatas mimbar juga terdapat ukiran yang dimaknai sebagai simbol unsur sifat kehidupan, air, bumi, api, matahari, angin, petir, bulan dan bintang. Pesan yang terkandung, kata Kuswinarno, pemimpin atau manusia sejatinya harus menjadi pijakan dan pemaaf terhadap kesalahan, jangan hanya melipat tangan, tapi juga harus ikut menyisingkan lengan baju, menjadi penenang, penentram, penegak hukum yang jurdil, menjauhkan watak emban cindhe emban siladan, menjadi suri tauladan dan penunjuk bagi rakyatnya serta menjauhkan perasaan adigang adigung adiguna, serta memiliki sifat tegar terhadap pendiriannya.
Ketua Umum Takmir Masjid Agung Demak KH Mohammad Asyiq juga menuturkan, jejak Walisongo yang hingga kini masih dilestarikan diantaranya, perayaan Grebeg Besar yang berlangsung setiap 10 Dzulhijah saat Idul Adha. Perayaan itu selalu dimeriahkan dengan karnaval kirap budaya yang dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak hingga ke Makam Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Kadilangu, yang menempuh perjalanan sekitar 2 kilometer.
''Prosesi lainnya, ziarah ke makam sultan-sultan Demak, Sunan Kalijaga, Pasar Malam Rakyat di Tembiring Jogo Indah, Selamatan Tumpeng Sanga, shalat Idul Adha, Kirab Budaya dan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga (Kutang Ontokusuma dan Keris Kyai Crubuk),'' tutur mantan Wakil Bupati Demak itu.
Ditambahkan, selain perayaan, ajaran kehidupan para Wali Songo hingga kini juga terus ditanamkan kepada seluruh masyarakat adalah keutamaan menjungnjung kebersamaan dan perdamaian.
Kiai Asyiq, sapaan KH Muhammad Asyiq, mencontohkan, beberapa bentuk kebersamaan di dalam masyarakat yang hingga kini masih dilestarikan diantaranya dengan tahlilan dan menghormati warga Hindu dengan tidak menyembelih sapi. (KS)

Masjid Jami Pekojan, Pertahankan Ukiran Bulan Sabit dan Pohon Bidara


LANTUNAN azan terdengar dari sebuah menara yang tidak terlalu tinggi. Beberapa pekerja seperti kuli panggul, tukang becak, maupun karyawan perkantoran yang ada di sepanjang Jalan Pekojan itu pun bergegas memasuki sebuah gang. Setelah memasuki gang bernama Petolongan yang memiliki jalan dengan lebar kurang dari lima meter itu berdiri megah sebuah masjid.
Dari jalan kecil dengan lalu lalang tukang becak yang mengantar penumpang, masjid itu terlihat biasa saja, sama dengan masjid-masjid yang ada di daerah lainnya. Namun, setelah memasuki pintu gerbang, beberapa nisan berada di kanan kiri gerbang dan di depan serambi. Pohon bidara nampak berdiri kokok di samping kiri gerbang. Sementara di depan serambi, hanya ada empat pohon bidara yang masih kecil.
Memasuki ruang utama seluas 10 x 10 meter itu masih terjaga keasliannya. Meski serambi terlihat lebih megah, namun tak mengalahkan bangunan berarsitektur kuno yang lebih tinggi dari bangunan baru. Tembok tebal, daun pintu tinggi yang terbuat dari kayu jati terukir bentuk kipas sederhana, jendela kecil dengan kaca patri berbentuk bunga, jendela dengan hiasan teralis bunga dari besi masih terawat baik.
Meski telah mengalami banyak renovasi, namun banyak benda kuno yang masih bisa temukan di ruang utama masjid. Seperti mimbar masjid yang dari kayu jati dan sangat kuno, diatas imam terdapat ukiran bintang dan bulan sabit yang merupakan ciri khas masjid zaman dulu, serta jam kuno di tempel di beberapa bagian dinding masjid. Mengamati prasati yang ditemukan menempel di dinding yang ada di dalam masjid itu tertulis, bahwa masjid itu dibangun pada 1309 Hijriah atau 1878 Masehi.
Imam Besar Masjid Jami Pekojan KH Idris Muhammad (72) menuturkan, asal muasal masjid yang ada di Jalan Petolongan 1 itu sebelumnya adalah mushala kecil. Namun oleh enam tokoh keturunan Pakistan merubah mushola kecil menjadi masjid yang memiliki arsitektur mirip dengan Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman.
''Dalam prasasti tertulis tahun dibangunnya masjid, mereka adalah H Muhammad Ali, H Muhammad Asyari Akhwan, H Muhammad Yakub, Alhadi Ahmad, H Muhammad Nur dan H Yakub. Masjid ini dulunya hampir semuanya di kelilingi makam, beberapa sudah dipindah dan yang masih ada tetap dirawat, karena makam yang ada di depan masjid ini merupakan keturunan dari Nabi Muhammad Saw, yakni Syarifah Fatimah binti Syekh Abu Bakar,'' tuturnya.
Mbah Idris, sapaan karab KH Idris Muhammad juga menjelaskan, selain bangunan asli dan makam, di sebelah kiri dan depan serambi juga berdiri pohon Bidara yang berumur 100 tahun lebih. Oleh masyarakat sekitar, daun bidara yang dicampur dengan air itu, sering digunakan untuk memandikan jenazah.
''Anak kecil yang terkena cacingan, diberi buah bidara pun bisa sembuh. Bahkan untuk penyakit lainnya. Maka tidak heran, dari mulut ke mulut, warga baik dari Semarang maupun luar daerah sering datang kesini untuk meminta buah atau daunnya,'' papar warga Jl Petolongan No 1 RT 1 RW 4 itu.
Karena dianggap mujarab, tidak sedikit masyarakat yang ingin membuat bibit dengan cara mencangkok. Namun, ketika dibawa pulang ke rumah dan ditanam, pohon itu tidak tumbuh. ''Pak H Soemarmo saja pernah datang dan mencangkok pohon itu, tapi saat ditanam kembali tidak bisa tumbuh,'' tandas bapak tujuh putra dan 22 cucu itu.
Pengurus Takmir Masjid Jami Pekojan, H Ngatiman menambahkan, saat ini salah satu masjid tua di Semarang itu telah mengalami banyak renovasi, terakhir kali masjid itu direnovasi secara besar-besaran pada 1975-1980. Menurut dia, ada kekhasan yang dihafal masyarakat Semarang dan sekitarnya mengenal Masjid Jami Pekojan saat bulan ramadan seperti saat ini, yakni takjil Bubur India. Biasanya masyarakat datang mendatangi masjid ini saat ramadan pada sore hari sekitar pukul 16.30.
''Selain bubur India,  ada banyak kegiatan yang diadakan takmir masjid untuk mengisi kegiatan Ramadan. Ada pengajian jelang berbuka puasa, tadarus Alquran, empat atau tiga hari sekali ada ceramah dari imam masjid,'' katanya, kemarin. (KS)

Wednesday, 15 June 2016

Watu Lumpang di Goa Kreo Jatibarang, Jadi Jejak Sunan Kalijaga dalam Penyebaran Islam


BELASAN monyet ekor panjang (macaca fascicularis) berebut kacang dan ketela yang diberikan pengunjung obyek wisata Goa Kreo, Jumat (25/7) pagi. Beberapa ekor monyet berukuran besar berupaya merebut makanan yang dipegang monyet kecil.
Monyet-monyet itu tetap asyik menikmati makanan sambil duduk di batuan berukuran besar yang bentuknya tak beraturan. Saat saya mendekat batu besar yang di sekelilingnya dipasang patok besi, beberapa monyet pun melompat beberapa.
Di tengah patok besi, ada empat batu yang tertata tak rapi. Satu batu besar dan tiga lainnya berukuran agak kecil. Salahsatunya berbentuk lumpang. Lumpang merupakan wadah berbentuk bejana yang biasanya untuk menumbuk padi, kopi, ataupun bahan olahan lainnya.
Memiliki diameter 80 sentimeter dengan lobang di tengahnya dengan diameter 25 sentimeter dan memiliki kedalaman lobang sekitar 25 sentimeter. Batu itu sebelumnya berada di tegalan milik Muyadi, warga Dukuh Siwarak, Kelurahan Kandri. Batu itu dipindah ke areal parkir Wisata Goa Kreo pada April 2010 agar tidak tenggelam saat Waduk Jatibarang mulai dialiri air melalui upacara Mboyong Watu Lumpang.
Sesepuh sekaligus juru kunci Wisata Goa Kreo, Sumar (74) menuturkan, keberadaan Watu Lumpang berkaitan erat dengan penyebaran agama Islam pada masa Sunan Kalijaga sebelum pembangunan Masjid Demak. Berdasarkan mitos yang berkembang di tengah masyarakat, Watu Lumpang digunakan Sunan Kalijaga untuk bermunajat saat mendapat tugas suci mencari tiang Masjid Demak dari Jatingaleh.
''Saya sendiri tidak tahu pasti kapan batu tersebut ditemukan, karena sudah sejak turun-temurun situs bersejarah tersebut sudah ada. Masih ada satu benda yang belum ditemukan yakni alu. Saya juga tidak mengetahui pasti apakah alat penumbuk tersebut terbuat dari kayu ataupun batu. Yang jelas jika ada batu lumpang tentu saja ada alunya (alat penumbuk padi-red). Namun saya tidak tahu pasti apakah ada atau tidak,'' tuturnya.
Menurutnya, andaikata situs tersebut lenyap maka masyarakat akan kehilangan penanda sebagian kisah yang masih dipercayai oleh turun temurun bagi masyarakat Dukuh Talunkacang terkait syiar penyebaran agama Islam. Selain Watu Lumpang yang ada di kawasan itu, batu berukuran paling besar merupakan batu yang sebelumnya berada di tengah lahan parkir. Ada juga berbentuk lumpang akan tetapi merupakan lumpang buatan dan satu batu lainnya berbentuk seperti nampan yang kondisinya telah terbelah menjadi dua. (KS)

Kampung Spoorlaan Kelurahan Kemijen, Stasiun Pertama di Indonesia yang Jadi Pemukiman Warga


HASIL penelitian pemerhati sejarah Kota Semarang yang juga dosen Jurusan Arsitektur Unika Soegijapranata Ir Tjahyono Rahardjo MA bersama dosen Undip Karyadi Baskoro dan Deddy Herlambang pada 2008 untuk mengetahui jejak sejarah stasiun kereta api pertama di Indonesia membuahkan hasil. Menurut mereka, posisi Semarang sebagai titik awal perkeretaapian di Indonesia tak terbantahkan setelah mempelajari buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia yang diterbitkan oleh Tim Telaga Bakti Nusantara pada 1997.
''Dalam buku itu disebutkan, stasiun pertama di Indonesia ada di Kemidjen dengan kereta api yang berjalan dengan rute Semarang-Tanggung sepanjang 26 kilometer. Tapi dari sumber lain seperti buku De Tramwegen op Java (Samarang-Joana- Stoomtram Mij, 1907), Gedenkboek der Staatsspoor- en Tramwegen in Nederlandsch-Indie 1875-1925 (Reitsma, 1925), dan Riwayat Semarang (Liem Thian Joe, 1933) tidak menyebut secara eksplisit. Mereka hanya mengatakan bahwa jalur kereta api pertama adalah: Samarang (Semarang)-Allas Toewa (Alastuwa)-Broemboeng (Brumbung)-Tangoeng (Tanggung),'' papar Tjahjono.
Nama-nama itu, kata Tjahjono, juga yang tertulis di jadwal perjalanan yang pertama, yakni pada 1 Agustus 1867. Anehnya, kata dia, nama stasiun itu diambil dari nama desa, bukan kota. Gambar stasiun Kemi(d)jen pun menunjukkan bangunan yang lebih mirip rumah sinyal daripada stasiun serta Kemi(d)jen sendiri berada di lintasan Semarang - Demak (SJS), bukan di jalur Semarang - Solo - Yogya (NIS). Untuk menjawab pertanyaan itu, Tjahjono pun mempelajari peta-peta tua Semarang dari tahun 1866, 1869, 1909, 1917, 1925, 1935 dan 1938.
''Peta-peta lama itu ditumpangkan pada foto satelit Google Earth. Hasilnya menunjukkan bahwa stasiun ini terletak di ujung Jalan Ronggowarsito (Spoorlaan). Yang sangat membantu adalah koleksi foto JA Meesen di KITLV dengan tulisan het eerste station van de Nederlandsch Indische Spoorwegmaatschappij, gebouwd 1867,'' katanya.
Bukti bahwa stasiun pertama di Indonesia itupun diketahuinya setelah melakukan riset maupun berkunjung ke Kampung Spoorlaan. Bangunan yang dimaksud Tjahjono itu kini berubah menjadi Asrama Sporland. Deretan rumah yang dihuni keluarga pensiunan PT KAI itu dihuni sekitar 30 KK. Lokasinya hanya berjarak sekitar 500 meter dari bekas Stasiun Kemijen, tepatnya di RT 2 RW 3, Kelurahan Kemijen.
Dari pantauan saya, masih dijumpai beberapa ciri yang sama dengan foto JA Meesen, diantaranya berupa lubang angin, konsol besi melengkung seperti huruf S, bentuk balok kayu atap, serta ambang pintu melengkung seperempat lingkaran. Keempat ciri tersebut terlihat di rumah yang dihuni keluarga Ngatiyem, suami dari mantan masinis kereta api, almarhum Suyono. Ambang pintu terdapat di tembok kamar tidur Ngatiyem yang dengan ketinggian satu meter.
''Kalau dulu tingginya tiga meter, sekarang tinggal satu meter karena ambles oleh rob,'' ujar ibu tujuh anak yang empat anaknya tinggal di asrama tersebut, kemarin.
Sadli, salah seorang pensiunan PT KAI yang pada  1975 pernah berdinas di Stasiun Kemijen setengah membenarkan paparan Tjahjono. Menurut dia, stasiun Kemijen hanya dipergunakan untuk rumah signal keret api. ''Kalau memang menjadi stasiun yang sebenarnya, seharusnya Stasiun Kemijen dilengkapi dengan peron pemberangkatan penumpang serta gudang barang. Dua penanda itu memang tidak ada,'' ujarnya. (KS)

Nama Jalan dan Gang di Kawasan Pecinan, Dari Aktifitas Ekonomi hingga Kebiasaan Masyarakat


MEMPERBINCANGKAN kawasan Pecinan Semarang seolah tak ada habisnya. Menyusuri Kawasan Pecinan, kita akan bertemu dengan nama gang maupun nama jalan yang kebanyakan orang menyebutnya unik. Kondisi gang-gang yang ada saat ini pun cukup lebar dan memadai sebagai sarana transportasi, berbeda dengan  kondisi awal pembetukannya.
Dosen Undip Titik Suliyati menuturkan, dinamika Kawasan Pecinan tercermin dari penamaan atau toponim dari jalan-jalan atau kampung-kampung kecil yang terdapat di lingkungan itu dan terbentuk dari beberapa unsur yaitu jalan dan kampung-kampung kecil yang ada di dalamnya.
''Penamaan jalan dan kampung-kampung yang ada di Pecinan dan sekitarnya berkaitan dengan perkembangan aktifitas ekonomi, situasi kondisi alamiah, nama tokoh, flora dan etnisitas,'' katanya.
Gang Beteng, misalnya, merupakan nama jalan yang berdekatan dengan benteng yang dibangun di kawasan Pecinan untuk keamanan masyarakat. Gang Kranggan merupan nama jalan yang terletak berdekatan dengan kawasan Pecinan. Nama "kranggan" berasal dari kata "rangga" yaitu salah satu sebutan pejabat pemerintah pribumi. Selain itu "rangga" juga mempunyai arti sebagai pembuat keris.
Gang Pinggir sendiri merupakan sebutan masyarakat untuk jalan yang letaknya berada di posisi paling pinggir dari kawasan Pecinan. Gang Pinggir dahulu disebut sebagai Pecinan Wetan (Pecinan Timur) atau Tang-kee. Nama jalan Gang Warung mengandung dua pengertian yaitu "gang" dan "warung". Disebut Gang Warung karena sejak awal pembentukan kawasan Pecinan di jalan tersebut banyak warung-warung yang  dibangun oleh masyarakat. Sebelum namanya menjadi Gang Warung, masyarakat menyebutnya sebagai Pecinan Lor (Pecinan Utara) atau A-long-kee.
Setelah kawasan Pecinan semakin ramai dan penduduknya mulai membangun rumah-rumah di tengah kawasan, muncul jalan-jalan baru yang merupakan jalan level kedua yang merupakan jalan-jalan yang tidak terlalu luas dan bukan sebagai akses jalan utama, yaitu jalan Gang Lombok, Gang Petudungan, Gang Baru, Gang Belakang, Gang Gambiran, Gang Tengah, Gang Besen).
Perubahan fisik terjadi ketika masyarakat tidak mampu mempertahankan kondisi lingkungan yang dapat  menyejahterakan masyarakatnya. Hal ini dapat kita lihat pada beberapa bangunan fisik seperti Bandar yang terdapat di kawasan Pecinan tidak berfungsi karena pendangkalan yang terjadi di Sungai Semarang. Diperkirakan pada akhir abad ke-19 Bandar di Pecinan sudah tidak berfungsi. Walaupun secara fisik bandar ini sudah tidak ada, namun masyarakat masih menggunakan nama Sebandaran untuk menyebut kampung/ lokasi bandar pada masa lalu.
Nama unik lainnya adalah daerah yang menjadi identitas awal Pecinan,Tjap Kauw King. Nama jalan tersebut berdasarkan jumlah rumah yang ada, yaitu 19 rumah (cap adalah sepuluh, dan kauw  adalah sembilan). Sekarang jalan ini dikenal sebagai Jalan Wotgandul. Sembilan belas rumah yang menjadi land mark jalan ini sudah berubah.
''Perubahan yang terjadi di Kawasan Pecinan adalah menghilangnya nama-nama Cina yang semula dipakai sebagai nama jalan dan nama kampung. Toponim yang semula dipakai sebagai nama jalan dan kampung sebagai penanda aktifitas atau kondisi lingkungan atau kondisi sosial masyarakat yang spesifik atau khas, pada perkembangannya kemudian toponim tersebut tidak ada lagi korelasinya dengan aktivitas dan kondisi lingkungan dan sosial yang berlansung di jalan atau kampung tersebut,'' imbuh penulis buku Pecinan Semarang dan Dar-Der-Dor Kota, Tubagus P Svarajati.
Sebagai kawasan  kuno yang telah mengalami dinamika dalam aktivitas ekonomi, politik, sosial dan budaya, Pecinan memiliki makna penting dalam sejarah perkembangan kota. Banyak hal yang telah berubah pada kawasan Pecinan, tetapi banyak pula yang tidak berubah. Bangunan-bangunan ibadah dan aktivitas budaya masyarakat diupayakan lestari. Bangunan-bangunan ibadah yang berupa kelenteng merupakan salah satu unsur budaya yang dapat menjadi identitas dan menguatkan eksistensi masyarakat Cina di Pecinan Semarang. (KS)

Jembatan Berok Jadi Penghubung Strata Sosial dan Budaya yang Berbeda


LALU lalang kendaraan dari Jalan Imam Bonjol, Jalan Pemuda menuju Jalan Mpu Tantular Kawasan Kota Lama, Rabu (9/4) sejak pagi hingga sore tidaklah ramai seperti hari-hari biasanya. Karena bertepatan dengan pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif, beberapa kantor dan perusahaan meliburkan karyawannya. Masyarakat pun lebih banyak memilih beraktifitas di rumah usai memberikan suara. Sebagian lagi sibuk memantau perolehan suara di tempat pemungutan suara (TPS) di daerahnya.
Kemeriahan kendaraan yang melintasi jembatan dengan pagar besi berwarna merah dan aktifitas jual-beli barang bekas di tepi Kali Semarang pun nampak sepi. Sementara itu, angkutan kota berwarna oranye tampak berjajar keluar dari Jalan Kepodang. Tiga tukang becak nampak terlelap di atas becaknya yang diparkir tepat di ujung jembatan yang menghubungkan Kota Lama, Jalan Mpu Tantular, dan Jalan Pemuda.
Jembatan Berok, begitulah masyarakat biasa menyebut jembatan yang berada persis di jantung ekonomi tradisional Semarang Pasar Johar yang menghubungkan antara Kota Lama Semarang dan Kota modern Semarang saat ini.
Kata Berok sebenarnya merupakan nama jembatan yang berasal dari bahasa Belanda, dalam pelafalan lidah Belanda disebut gouvernementsburg atau sociteisburg yang berfungsi sebagai penghubung Jalan Bojong (sekarang Jalan Pemuda) dengan Benteng Vijhoek. Tiang jembatan mirip dengan tiang Taman Polder Tawang. Sementara, pagar jembatan terbuat dari besi tegak lurus dengan motif bunga. Karena kebanyakan orang Jawa sulit untuk melafalkan dalam bahasa Belanda maka kemudian lamakelamaan kata Burg berubah menjadi Berok atau Mberok.
Jembatan berjajar itu mengubungkan aktivitas masyarakat Semarang yang terdapat di Jalan Pemuda-Kota Lama, area Pasar Johar, dan Jalan Layur berdekatan dengan Masjid Menara Kampung Melayu. Di sebelah barat jembatan berdiri megah Gedung Kas Negara. Sisi timur jembatan, salah satu bangunan tua di Kota Lama yang kini digunakan sebagai kantor Bank Mandiri dan PT Pelni.
Sesepuh Kampung Pandansari, Haryanto (64) menuturkan, jembatan yang berfungsi untuk menghubungkan Kota Lama atau Oud Standt dipagari benteng berbentuk segi lima (Benteng Vijfhoek). Bagian kota itu dibuat oleh almarhum sang kakek yang bernama Karjono atau pada masa Belanda dikenal dengan sebutan Pak Jantut sekitar tahun 1700-an.
''Kalau menurut cerita sesepuh dulu, Kali Mberok di era kejayaannya menjadi saksi bisu kemeriahan ekonomi Semarang tempo dulu. Di kali ini juga menghubungkan antara strata sosial budaya berbeda menjadi satu kawasan yang seperti ini. Kala itu, Kali Semarang masih sangat berperan dengan transportasi sungainya, yakni dalam membawa kebutuhan sehari-hari dan barang dagangan dari luar Semarang. Tapi sekarang justru menjadi ancaman ketika airnya meluap, karena membanjiri kampung-kampung yang dilintasi,'' tuturnya.
Meskipun bukan sebagai tempat melancong, keberadaan jembatan Berok tidak bisa dipisahkan begitu saja dari tempat yang menarik seperti Kawasan Kota Lama Semarang, Masjid Besar Kauman, Masjid Menara Jalan Layur, Pasar Tradisonal terbesar di Kota Semarang Pasar Johar, kawasan pecinan, dan Stasiun Tawang beserta polder. Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa kawasan yang dilewati Kali Mberok merupakan kawasan terpenting dari cikal bakal Semarang tempo dulu.
''Kakek saya yang membuat teralis dan kaki-kaki yang hingga sekarang masih kokoh. Karena berhasil membuat jembatan itu dengan baik, Pemerintah Belanda memberi hadiah kepada kakek saya berupa kereta kencana lengkap dengan dua kuda,” tutur bapak dua anak yang juga warga Jl Pandansari I RT 5 RW 2, Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah. (KS)

Kisah Penjaga Rumah Pompa : Diprotes Warga hingga Seminggu Tak Pulang


Keberadaan pompa air yang ada di wilayah Semarang diharapkan mampu untuk mengatasi banjir maupun genangan rob. Akan tetapi, keberadaan pompa itu sendiri masih belum maksimal. Meski para petugas sudah menjalankan tugasnya. Bagaimana kisah para penjaga rumah pompa di Kota Semarang? Berikut laporannya.

ALIRAN sungai Kali Banger, Senin (31/5) sore makin meninggi. Seorang lelaki yang bertugas berjaga Rumah Pompa Sedompyong yang ada di Kelurahan Kemijen pun tak lepas memandangi tepi tanggul.
Aliran air pun nampak tenang mengalir ke Utara bersama sampah yang beragam jenisnya. Jembatan yang menghubungkan Kampung Penjaringan dan Sedompyong pun sudah tenggelam. Di dua ujung jembatan pun nampak beberapa warga tengah memasang karung yang sudah diisi dengan pasir dan tanah.
Sementara, lelaki yang bernama lengkap Giriyanto (23) itu tetap tenang. Ketika saya menyapanya, lelaki yang mengaku baru tiga tahun bekerja dengan status honorer sebagai penjaga rumah pompa itu pun langsung memberikan senyum ramah.
''Kalau bicara kendala, saya sering mendapat protes dari warga. Ketika Kali Banger melimpas ke kampung, pintu air dari saluran Pengapon yang mengalir ke Kali Banger disuruh menutup, agar genangan air sampai di Kantor Kelurahan Kemijen, tapi saya tidak bisa melakukannya, air harus semuanya dibuang ke Kali Banger. Yang mejadi masalah adalah talut sebenarnya yang ketinggiannya hanya 30 sentimeter,'' tuturnya.
Sehingga, menurut Giri, sapaan akrab Giriyanto, ketika elevasi Kali Banger meninggi, ia pun hanya bisa mengurangi debit air yang menggenangi kampung serta memasang tumpukan karung yang telah diisi dengan pasir maupun tanah ke talud yang mengalirkan limpasan air dari Kali Banger.
Tanggung jawab yang sangat besar sebagai operator pompa juga dialami oleh Suparno Widodo (56) sejak bertugas dibawah Dinas PSDA dan ESDM Kota Semarang sejak 2006 di Jalan Raya Kaligawe untuk untuk mengendalikan banjir dan rob, berkapasitas masing-masing 100 liter/detiknya membuat dia selalu siaga.
''Sudah seminggu ini saya tidak pulang kerumah, saya paling tidur di tenda kecil bersebelan dengan mesin penyedot, karena terus memantau kalau air akan naik ke jalan mesin pasti dihidupkan. Dan itu bisa sehari semalam mesin hidup untuk menghalau rob yang datang,'' kata Widodo yang juga masih berstatus honorer.
Widodo pun mengakui, terpaksa harus mematikan mesin pompa ketika Kali Tenggang sudah tidak mampu menahan arus air atau sudah meluap.
''Kami tidak bisa berbuat banyak apabila Kali Tenggang sudah membludak alias meluap ke Jalan Kaligawe sebelah timur palang Kereta Api,'' katanya.
Sementara itu, penjaga pintu Bendungan Pucanggading sebagai alah satu penyelamat banjir di Kota Semarang, Asmuni (36), setiap hari harus memastikan debit air Kali Babon tidak boleh melebihi 78 meter kubik per detik, aliran ke Banjirkanal Timur tidak boleh melebihi 145 meter kubik per detik.
Karena, menurutnya luas daerah tangkapan Banjirkanal Timur hanya sekitar 29,7 kilometer persegi (km2) yang meliputi daerah tangkapan Kali Candi (5,8 km2), Kali Bajak (6,8 km2), dan Kali Kedungmundu (17,1 km2).
''Luas daerah genangannya sendiri mencapai 250 hektar, yang menjangkau daerah permukiman di sebelah utara Banjirkanal Timur. Kalau lebih, ya banjir yang terjadi. Maka, bendungan ini memiliki fungsi salahsatunya penyelamat banjir di Kota Semarang,'' ujar Asmudi yang sudah bekerja selama lima tahun dan berstatus honorer itu.
Asmuni pun mengakui, kendala terberat sebagai penjaga pintu bendungan, adalah ketika ketika aliran dari Ungaran sangat besar, dan banyak sampah yang menumpuk di pintu air. Terutama sampah seperti kayu, pohon dan bambu.
''Untuk membantu menaikkan sampah, kita minta tolong ke penjaga pintu dari Mluweh dan Batur. Karena, pada hari biasa, petugas penjaga di Bendungan Pucanggading hanya enam orang. Itupun terbagi dalam dua shift, siang dan malam. Ketika musim penghujan, tim jaga pun harus berangkat seluruhnya,'' paparnya.
Asmuni pun mengakui, setelah daerah Tembalang berdiri banyak perumahan, pihaknya sering menerima protes agar membuka pintu lebih tinggi lagi, karena wilayah perumahan seperti Dinar Mas kebanjiran. Tetapi ia menolaknya, karena ada aturan yang membatasi pembukaan pintu agar kawasan Semarang bawah tidak kebanjiran. (KS)

Sejarah Tradisi Dugderan Dimulai 1881, Jadi Penentu Dimulainya Puasa


Dugderan Semarang merupakan salah satu tradisi masyarakat yang sudah berlangsung lama, sebagai tanda datangnya bulan Ramadan. Perayaan itu selalu dilengkapi dengan kegiatan pasar malam yang berlokasi di Pasar Johar dan berakhir dengan karnaval dugderan yang biasanya dihiasai dengan berbagai atribut budaya yang salah satunya sangat fenomenal dengan sebutan Warag Ngedhok.

PERBEDAAN umat Islam dalam menentukan dimulainya puasa Ramadan telah berlangsung sejak lama. Masing-masing pihak biasanya ingin mempertahankan kebenarannya sendiri-sendiri.
Seperti yang terjadi para tahun 1881 ketika Semarang dibawah pemerintahan Kanjeng Bupati RMTA Purbaningrat. Kanjeng Bupati pun memberanikan diri untuk menentukan dimulainya 1 Ramadhan dengan memukul bedug di Masjid Agung Semarang atau yang populer disebut Masjid Kauman serta membunyikan meriam di halaman kabupaten.
Upacara itu pun makin lama menarik perhatian masyarakat semarang dan sekitarnya. Hingga mengundang para pedagang dari Semarang dan sekitarnya berdatangan untuk menjual makanan, minuman, aneka mainan anak anak yang terbuat dari tanah liat (gerabah, celengan), mainan dari bambu (seruling, gangsingan) dan mainan warak ngendog.
Meskipun jaman sudah berubah dan berkembang, akan tetapi tradisi dugderan masih tetap dilestarikan hingga saat ini. Prosesi pun diawali dari halaman Balaikota di Jalan Pemuda menuju Masjid Kauman dilanjutkan ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Keberadaan pasar malam yang dahulu menempati alun-alun pun sekarang beralih ke Jalan Agus Salim dan sebagian Jalan Pemuda, karena keberadaan alun-alun sudah berubah menjadi pasar dan pertokoan.
Imam Besar Masjid Kauman KH Azim Wasiq menuturkan, pelaksanaan puncak dugderan saat ini bukan lagi menjadi aktifitas untuk menentukan jika besok harinya adalah 1 Ramadan. Namun, kata dia, dugderan adalah semangat untuk menyambut gembira atas datangnya bulan yang penuh dengan berkah, yakni Ramadan.
''Yang harus diluruskan di masyarakat adalah jangan memaknai jika hari ini puncak dugderan besok harinya adalah puasa atau 1 Ramadan. Dugderan adalah semangat cinta dan rasa bahagia dapat bertemu bulan yang penuh berkah. Soal keputusan 1 Ramadan itu bukan dari dugderan, tapi dari metode imkanurrukyah dan tentunya menunggu hasil sidang isbat pemerintah bersama organisasi kemasyarakatan yang ada,'' tuturnya.
Prosesi dugderan menyambut Ramadhan 1437 H ini akan berlangsung pada Sabtu (4/6) dan Minggu (5/6). Acara arak-arakan sendiri akan digelar Sabtu (4/6) mulai pukul 12.00. Dijadualkan, Gubernur Ganjar Pranowo akan menyambut arak-arakan di MAJT. Sementara itu, dari pantauan saya, para pedagang maupun wahana permainan anak-anak sudah memadati kawasan Pasar Johar, Jl Agus Salim dan Jl Pemuda sejak Kamis (26/5) lalu. (KS)

"Marbot" Masjid Agung Semarang, H Abdus Salam Alhafidz


Penjaga masjid merupakan salah satu pekerjaan dari sekian perkerjaan yang ada di dunia, dengan tugas untuk menjaga dan mengurusi masjid, mereka juga memiliki pengalaman dan cerita yang mewarnai kehidupan mereka sebagai penjaga masjid.

RAMADHAN, indentik dengan kegiatan umat Islam untuk memperbanyak ibadah. Terlebih bagi para penjaga masjid besar yang banyak dikunjungi masyarakat. Pada ramadan ini, pekerjaan mereka pun bertambah banyak.
Marbot masjid oleh banyak kalangan diartikan sebagai penjaga masjid atau seseorang yang ditugaskan untuk menjaga kebersihan masjid dan juga sekaligus menjadi penanggungjawab segala ritual ibadah di masjid seperti adzan lima waktu, menjadi imam cadangan, dan juga khatib cadangan.
Belum lagi tugas tugas teknis lainnnya seperti bertanggungjawab atas kebersihan dan kerapian masjid. Tugas Marbot ini sungguh begitu berat karena harus stand by 24 jam mengurusi segala kegiatan di masjid.
Salahsatunya seperti yang dilakukan H Abdus Salam Alhafidz (59), warga kelahiran Desa Sukorame, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur sejak 1978. Datang ke Semarang pertama kali, niat awalnya pun nyantri di Kauman untuk menghafal Alquran menyusul sang kakak.
Suatu ketika, saat memasuki waktu shalat, Salam, sapaan akrab Abdus Salam pun menuju Masjid Agung Semarang atau yang biasa disebut Masjid Kauman. Karena tidak ada muadzin, Salam pun langsung mengambil microphone dan melantunkan adzan.
''Karena suara saya dianggap bagus, saya pun diminta oleh takmir masjid untuk menjadi muadzin. Padahal, saya sendiri memiliki tanggungan untuk menghafal Alquran. Tawaran pun saya ambil, sekaligus saya dipasrahi untuk menjadi penjaga masjid,'' tuturnya.
Saat ditemui di asrama imam masjid, bapak tiga anak itu pun menjelaskan, selain adzan, tugas yang harus dilakukan di masjid yang memiliki sejarah panjang itu pada ramadan hampir 24 jam. Setelah sahur, harus menyiapkan "uba rampe" terkait salat jamaah Subuh, pengajian bakda Subuh.
Kemudian, istirahat hingga sebelum Dhuhur. Paska salat Dhuhur, pengajian rutin yang selalu digelar di masjid pun ia siapkan. Termasuk mengatur jamaah agar duduk teratur ketika mengikuti pengajian. Menjelang Maghrib, menyiapkan takjil untuk dibagikan kepada para jamaah.
Pada malam hari, selain salat wajib, juga ada salat tarawih, tadarusan dan berbagai aktivitas lain di malam hari. Ibadah tersebut, belum termasuk dengan yang dilakukannya sendiri. Demikian secara terus menerus berlangsung.
''Tetapi, sejak 10 tahun yang lalu, saya tidak bisa mengumandangkan adzan lagi, karena suara saya hilang. Tugas saya pun kemudian menjadi imam dan cadangan imam serta tetap menjadi koordinator muadzin. Dan Alhamdulillah, pada 2005 lalu, diberangkatkan haji,'' ujarnya.
Karena hampir seluruh waktunya berada di masjid, Salam pun tinggal di asrama yang ada di lantai dua Masjid Kauman. Untuk menengok keluarganya di Trenggalek, hanya Salam lakukan setahun sekali ketika Idul Fitri.
Ketika ditanya apakah ada protes dari keluarga, Salam pun menegaskan, karena pekerjaannya adalah ibadah, keluarganya pun tidak ada satu pun yang membantahnya, justru mendukungnya dan ikhlas. Apa yang dilakukan karena niat ibadah, Salam pun mengaku tidak pernah merasa ada duka dalam pekerjaannya.
''Kalau soal honor, Alhamdulillah cukup. Saya juga nyambi jualan minyak dan mengajar ngaji privat di kampung-kampung sekitar Kauman. Menjadi marbot bukan niatan kerja, tapi ibadah, hidup pun menjadi ikhlas'' katanya. (KS)

Bermain Sepakbola Api Jaga Tradisi, Sambut Bulan Suci, Pererat Silaturahmi


Budaya dan tradisi yang ada di masyarakat semakin jarang dan langka, sehingga perlu untuk dilestarikan kembali. Di samping itu budaya dan tradisi juga bisa dijadikan cara untuk mempererat tali silaturrahmi.

SEPAK bola, sebagai cabang olahraga yang menggunakan bola yang umumnya terbuat dari bahan kulit dan dimainkan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan 11 orang pemain inti dan beberapa pemain cadangan.
Sepak bola api pun sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sepak bola pada umumnya. Akan tetapi bolanya terbuat dari buah kelapa yang sudah kering, kemudian dikuliti lapisan luarnya. Setelah itu, di rendam di minyak tanah selama beberapa minggu. Pada saat akan dimainkan, bolanya dibakar dan dimainkan ketika menyala.
Berbeda dengan sepak bola biasa, sepak bola api tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, keberanian, kecerdikan, kepiawaian serta ketangkasan dalam memainkan bola, melainkan harus dibekali ketangguhan psikis dan kekuatan spiritual. Sebelum bermain, para santri harus melewati "ritual khusus" agar tahan panas dan tidak mempan api.
Dahulu, para pemain sepak bola api harus berpuasa selama 21 hari, mengamalkan wirid, yang dibaca di waktu-waktu khusus, menghindari makanan-makanan yang dimasak dengan api, mengandung unsur nyawa, dan biasanya diakhiri dengan puasa satu hari satu malam tanpa tidur).
Setelah melewati "ritual", mereka memiliki kekuatan tahan panas dan tidak mempan api, sehingga dengan leluasa menendang, memegang, bahkan menyundul bola api tanpa merasakan panas, gosong, apalagi terbakar. Seolah-olah api itu sudah "ditundukkan" dan "dijinakkan" sehingga tidak lagi berbahaya, malah dijadikan tontonan dan permainan.
Seperti yang dilakukan Keluarga Mahasiswa Jepara di Semarang (KMJS) UIN Walisongo kemarin. Mereka menggelar sepak bola api di lapangan Gedung Q Kampus 2. Selama pertandingan para peserta tidak menggunakan sepatu sebagai alat pengaman kedua kaki.
Ketua KMJS Khoiruddin Farid mengatakan, pertandingan sepak bola api merupakan tradisi anggota KMJS yang digelar setiap tahunya untuk menyemarakkan bulan suci ramadan. Menurutnya, kegiatan ini juga terinspirasi dari tradisi Jepara yakni perang obor.
''Karena bulan puasa ini juga bertepatan dengan bergulirnya Piala Euro 2016. Sehingga sepak bola api ini kami gelar untuk menyambut pertandingan Piala Eropa yang diikuti 24 negara,'' kata Farid.
Senior KMJS, Ahmad Soim juga menambahkan, selama pertandingan berlangsung peserta berperan menjadi dua tim yakni Perancis dan Rumania sebagai tanda simbolis. Dalam pertandingan yang berlangsung sepuluh menit, gol pertama diciptakan oleh Dian Ahsannurozi dari tim Rumania, disusul gol oleh Burhan yang membawa Rumania memimpin 2-0.
Tim Perancis menyusul ketertinggalan pada babak kedua lewat dua gol dari Bayu, dengan skor imbang 2-2, hingga pertandingan usai. Kemudian, dilanjutkan lewat adu penalti yang dimenangkan oleh tim Rumania dengan skor 3-2.
''Bagi kami pertadingan sepak bola api ini selain menyermarakkan bulan suci ramadan dan menyambut Piala Euro 2016 juga memperarat tali persaudaraan antar anggota dan seluruh mahasiswa UIN Walisongo,'' katanya.
Selain menampilkan pertandingan sepakbola api, semburan api, berbagai macam atribut seperti maskot piala eropa dan berbagai macam bendera negara juga turut meriahkan acara. (KS)

Takjil Gratis, Bubur India, Nasi Kotak hingga Kopi Arab


ADZAN Maghrib belum berkumandang. Akan tetapi, kesibukan takmir masjid tua yang ada di Kota Semarang untuk menyiapkan menu buka puasa cukup luar biasa. Beragam menu takjil selalu disiapkan jauh hari sebelum ramadan tiba. Agar saat pelaksanaan berlangsung baik, lancar dan mengena.
Pembagian takjil di masjid tua yang ada di Kota Semarang telah berlangsung rutin dengan menu yang khas. Di Masjid Jami' Pekojan, Jalan Petolongan Nomor 1 misalnya. Menu bubur india selalu diberikan oleh takmir masjid kepada masyarakat saat buka puasa.
Imam Besar Masjid Jami' Pekojan KH Idris Muhammad menuturkan, masakan itu disediakan secara khusus sejak 56 tahun yang lalu oleh pengurus masjid. Bubur India itu sejatinya sama dengan bubur beras pada umumnya. "Yang membedakan bubur ini adalah cara pembuatan dan bumbu rempahnya. Beras direbus dalam sebuah panci tembaga besar kemudian diberi tambahan bumbu seperti santan kelapa, garam, bawang merah, bawang putih, jahe, serai, pandan wangi, kayu manis, dan cengkeh," tuturnya.
Setiap hari, 20 kilogram beras yang dimasak menjadi bubur itu selama Ramadan dibagikan sedikitnya pada 200-an orang, baik masyarakat sekitar, tukang becak, maupun kuli panggul Pasar Johar yang berbuka puasa di masjid tua itu.
Tradisi berbuka dengan Bubur India, kata bapak yang memiliki tujuh anak dan 20 cucu itu, adalah peninggalan komunitas muslim India, Pakistan dan Arab yang dahulu tinggal di Kampung Pekojan. ''Setelah seharian pencernaan kita kering, menu bubur menurut para dokter bagus untuk menjaga pencernaan,'' jelasnya.
Sebelum salat Asar, H Ngatiman (71) yang bertugas sebagai juru masak itu mulai memasang kayu bakar dan panci besar. Usai beras dicuci, kemudian dimasukkan ke dalam panci besar yang airnya mulai mendidih. ''Memasak bubur dengan kayu bakar, membuat rasanya memang berbeda. Setelah matang, saya tinggal dahulu untuk salat Asar berjamaah, baru kemudian saya dibantu pengurus masjid menyajikannya dalam piring,'' ujarnya.
Selain Masjid Jami' Pekojan, Masjid Kauman atau Masjid Agung Semarang yang ada di Jalan Aloon-aloon Barat juga memiliki aktifitas rutin setiap ramadan yakni membagikan air zam-zam kepada para jamaah yang berbuka di masjid itu. Air dari sumber mata air di Saudi Arabia itu menjadi salahsatu menu utama selain takjil.
Ribuan liter air zamzam kembali disiapkan selama bulan ramadan sebagai salah satu "menu wajib" dari takjil yang dibagikan kepada masjid saat berbuka nanti. Sebagai pasangannya, air zamzam selalu dipadu dengan tiga butir kurma yang dibungkus plastik kecil.
Pengurus takmir Masjid Agung Semarang, Muhaimin mengatakan dalam sehari jamaah masjid yang mendapatkan takjil spesial itu sekitar 400 orang. Sebelumnya digelar pengajian interaktif. Saat itulah takjil spesial mulai dibagikan kepada jamaah masjid. Disusul kemudian usai sholat tarawih ada kuliah tujuh menit atau kultum.
Selain air zamzam dan kurma, ada juga makanan berbuka yang setiap hari menunya berbeda tergantung dermawan yang memberikan bantuan. Meski demikian ia tidak khawatir akan kekurangan takjil atau makanan. ''Tidak pernah kurang, malah sering lebih. Kalau lebih biasanya diberikan kepada warga sekitar masjid,'' tuturnya.
Seperti halnya berbagai masjid lainnya di dunia, Masjid Layur di Jalan Layur, kelurahan Dadapsari, Semarang Utara juga menawarkan kegiatan buka bersama sepanjang bulan Ramadhan. Selain dapat menikmati takjil kurma dan kuliner lainnya, para jamaah dapat menikmati kopi Arab. Salah satu keunikan kopi Arab terdapat pada kombinasi kopi yang dipadu dengan beragam rempah khas nusantara seperti jahe, daun pandan, cengkeh dan kayu manis. Selain dikenal enak, tentu saja kopi ini menawarkan sensasi aroma yang begitu khas.
Nurul, salah satu pembuat Kopi Arab mengatakan, bahan-bahan Kopi arab terbuat dari beberapa bahan rempah-rempah yakni diantaranya, cengkeh, kapulaga, kayu manis, daun jeruk, serai, daun pandan, dan jahe, dan bahan rempah tersebut berufungsi  menyegarkan tubuh dan mencegah penyakit dalam.
''Menu ini sudah menjadi tradisi turun temurun yang ada didaerah tersebut sejak awal masjid berdiri ditahun 1802, atau di massa Hindia Belanda. Setiap harinya kita sediakan sekitar 50 porsi. Selain kopi arab, ada kurma, nasi bungkus maupun gorengan. Warga sekitar biasanya ada yang memberikan menu lainnya untuk para musafir yang berbuka disini,'' paparnya.
Sesepuh kampung dan imam masjid, Salim menambahkan, pembuatan kopi dahulu dilakukan di dapur masjid, namun lama kelamaan diserahkan kepada dirinya yang kebetulan bertempat tinggal di sebelah masjid. ''Tradisi ini sudah sejak massa nenek moyang, minuman ini bermanfaat untuk menghangatkan badan,'' tuturnya. (KS)

Thursday, 9 June 2016

De Vredestein atau Wisma Perdamaian, Pernah Digunakan untuk Pesta Ulang Tahun Ratu Inggris


WARGA Semarang tentu tahu keberadaan Wisma Perdamaian, namun tidak banyak yang mengetahui sejarah dan asal usulnya. Ya, Wisma Perdamaian dahulu dikenal dengan nama De Vredestein yang artinya istana perdamaian. Dinamakan begitu karena Belanda saat itu merasa kehidupan yang damai.
Bangunan yang terletak di dekat bundaran Tugu Muda atau tepatnya tepatnya di Jalan Imam Bonjol No 209 Semarang, Kecamatan Semarang Barat itu memiliki luas lahan sekitar 15.000 m2 dengan luas total bangunan 6.500 m2.
Seperti yang disampaikan Kepala Program Studi Arsitektur Undip, Totok Roesmanto, kemarin. Menurut dia, Wisma Perdamaian dulunya digunakan sebagai rumah dinas petinggi VOC yang menjabat sebagai Gouverneur van Java's Noord-Oostkust (Gubernur Jawa Utara Bagian Pesisir Timur) dan pertama kali digunakan sebelum 1755 menjelang perjanjian Giyanti. Bangunan itu juga merupakan bagian dari rancangan pelebaran kota dari wilayah kota lama menuju ke arah Karang Asem (sekarang Randusari).
''De Vredestein memiliki kaitan erat dengan sejarah Perang Jawa. Bangunan ini sangat bersejarah mengingat dimana disitulah tempat kedudukan gubernur VOC yang menguasai pantai utara Jawa. De Vredestein pernah digunakan untuk merayakan ulang tahun Ratu Inggris secara besar-besaran dengan pesta dansa yg dihiasi 620.000 buah lampion,'' tuturnya.
Secara arsitektur, bangunan Wisma Perdamaian juga telah mengalami banyak perubahan menyesuaikan fungsi bangunan itu sendiri. Karena pernah digunakan sebagai Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) pada 1978, dan pernah juga digunakan untuk Kantor Sosial pada 1980-an dan selanjutnya untuk Kantor Kanwil Pariwisata Jawa Tengah pada1994.
Setelah direvitalisasi pada 1994 gedung itu sempat menjadi Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah pada era Gubernur Suwardi bebarengan dengan penyematan "Wisma Perdamaian" sebagai nama gedung. Namun, setelah era Gubernur Suwardi para gubernur kembali menggunakan Puri Gedeh di Kecamatan Gajahmungkur menjadi rumah dinas. Kini, wisma perdamaian lebih sering digunakan untuk kegiatan pemerintah provinsi ataupun dimanfaatkan untuk kegiatan budaya, seni, ataupun pendidikan.
Sementara itu, dari penuturan beberapa warga, tanah yang kini berdiri Wisma Perdamaian, pertokoan, kampus Udinus hingga Rumah Setan di seberang SPBU Jalan Imam Bonjol merupakan tanah milik warga berkebangsaan Belanda bernama Frederick, ada pula y

ang menyebutnya Van Hendrick dan Prins Hendriklaan. Bahkan ada yang berpendapat kawasan itu diambil dari nama Prince Hendrik Lan, nama suami Ratu Wilhelmina. Karena susah untuk menyebut nama itu, lidah orang Jawa menyebutnya dengan Pindrikan atau Pendrikan.
Risyanto (66) warga RT 2 RW 6 Kelurahan Pendrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah menuturkan, sejarah nama Pendrikan sendiri hingga saat ini masih beragam versi. Ketua RW 6 yang juga bapak dari tiga anak itu menyebutkan, sebelum penataan kawasan Kota Semarang pada masa Wali Kota Soetrisno Soeharto atau sekitar 1970-an, Pendrikan Lor dan Bulu Lor adalah lahan persawahan. Adapun kawasan pemukiman yang dihuni warga hanya di Kelurahan Pendrikan Kidul.
''Berubahnya Pendrikan Lor dan Bulu Lor menjadi permukiman karena warga yang sebagian bekerja di perusahaan kereta api menimbun areal persawahan dengan tanah dan mendirikan rumah di kawasan itu,'' ujarnya. (KS)

Jembatan Wotgandul, Dibuat dari Bambu, Pernah Hanyut Diterjang Banjir


LALU lintas dari Jalan Wotgandul Timur menuju Jalan Plampitan, atau dari Jalan Wotgandul Barat menuju Jalan Wotgandul Timur seolah tak pernah berhenti melintas di atas jembatan dengan lebar delapan meter dan panjang 14 meter itu.
Tak hanya roda dua, kendaraan roda empat atau lebih hingga becak sejak pagi hingga petang terus saja melintas. Jembatan Wotgandul, demikian masyarakat menyebut jembatan yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah H Ismail pada Sabtu 19 Mei 1990.
Masa kecil Suparno (63) bapak tujuh anak dan tiga cucu yang setiap hari menanti penumpang di atas becaknya di sudut Kampung Wotgandul Timur atau sisi selatan jembatan menjadi kenangan yang tak pernah terlupakan.
Dahulu, kata dia, warga daerah Kauman, atau Kranggan yang pergi ke Dusun Brumbungan, harus mengambil jalan dari sisi timur melintasi rumah Kapiten Tan Lik Sing. Karena memakan waktu yang lama, warga pun membuat jembatan kecil di sungai sebelah barat dengan potongan bambu.
''Karena terseret banjir, warga pun membangun jembatan lebih tinggi dan di kedua tepinya dipasang dua buah tiang untuk mengikat bambu. Sementara di sampingnya dibuat pegangan untuk memudahkan orang lewat. Ketika melintasi, jembatan itu pun bergoyang. Karena gemandul (tergantung), masyarakat pun menamakan wowotan (jembatan) gemandul dan disingkat menjadi Wotgandul,'' tuturnya.
Seperti yang tertulis dalam buku Riwayat Semarang yang ditulis oleh Liem Thian Joe, asal mula nama Wotgandul merupakan istilah masyarakat yang menyebut jembatan gantung dan bergoyang ketika dilintasi dengan sebutan Wotgandul. Karena jembatan itu semakin ramai dan menjadi akses utama masyarakat, Pemerintah Kota Semarang pun kemudian membongkar jembatan dan melakukan normalisasi sungai pada 1973.
''Rumah saya pun tergusur, dan warga di Kampung Stal direlokasi ke Karangroto. Tetapi, sampai hari ini, saya masih bekerja di wilayah ini sebagai tukang becak. Karena disini sekarang tambah ramai,'' ujarnya.
Darmono (57) yang sebelumnya merupakan warga Kampung Stal dan kini juga telah pindah ke Karangroto menambahkan, pelebaran sungai dan jembatan dilakukan dua kali oleh pemerintah, pada 1973 dan awal 1989. ''Dulu lebarnya sekitar lima meter, dan dilebarkan lagi menjadi delapan meter pada 1989 kemudian diresmikan Pak Ismail yang saat itu menjabat sebagai gubernur pada 1990. Ketika mobil papasan, bisa lancar. Pengendara sepeda motor maupun mobil dari Wotgandul Barat ataupun dari Kawasan Pecinan yang ingin ke Jl Gajahmada biasanya memilih lewat jembatan ini menghindari kemacetan di Kranggan,'' tutur bapak dua anak itu. (KS)

Jalan Kepodang Kota Lama, Dari Sungai Kumuh, Menjadi Pusat Perbankan Jaman Hindia Belanda


KOTA Semarang sudah dikenal di seluruh dunia mulai abad ke-18, karena menguasai perdagangan dunia. Kawasan pengendali perdagangan dunia itu justru tidak di pusat kota seperti Jalan Pemuda, Jalan Gajahmada, Jalan Pandanaran atau Jalan Pahlawan.
Tetapi, justru di Kawasan Kota Lama, atau yang pernah dijuluki Little Netherland, sisa-sisa kejayaannya nyaris hilang, karena sebagian gedung yang dahulu menjadi pusat penjualan hasil bumi maupun sebagai pusat transaksi keuangan tidak terawat. Salahsatu sisa kejayaan masa lalu yang kondisinya memprihatinkan adalah pusat perbankan dan perusahaan besar jaman dahulu di Hogendorp Straat atau yang kini berubah nama menjadi Jalan Kepodang.
Dari pantauan saya, meski paving terlihat baru saja diganti, drainase di kiri dan kanan jalan yang tak terlalu lebar itu tidak pula sekalian dibangun kembali. Saluran air, dengan air comberan yang kotor. Di perempatan jalan, tempat para penjual ayam jago petarung, juga banyak tumpukan sampah, potongan kayu-kayu, bambu, plastik, dan sebagainya yang menumpuk dan semakin menyumbat saluran air. Padahal di kawasan inilah pusat kegiatan yang selalu ramai dari pagi hingga siang, di bawah teduhnya bangunan-bangunan lama yang menjulang. Lengkap dengan warung gulai dan pedagang kaki lima. Para pedagang ayam petarung menjajakan dagangannya.
Dai berbagai sejarah, dahulu, Jalan Kepodang merupakan bekas sungai kering yang pernah ada di kawasan kota lama Semarang masa lampau. Banyak terdapat kantor-kantor besar milik firma-firma yang terkenal waktu itu. Salah satunya ada Oei Tiong Ham Concern, Handel Maatschappij, Kian Gwan, Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij, Nederlansch Indische Bank.
Van Ossenberch yang pernah menjadi gubernur kompeni Belanda di Semarang dari tahun 1761 sampai 1768, dalam memoarnya juga pernah menulis, Jalan Kepodang awalnya adalah sebuah aliran sungai yang telah kering dan berbau busuk. Bekas aliran sungai itu kemudian diurug dan menjadi jalan.
''Kalau menjadi tempat berjualan ayam petarung sendiri belum lama. Dulu, gedung-gedung di sepanjang Jalan Kepodang ini memang bank. Tetapi, sekarang tinggal satu, itupun bank baru, Bank Mandiri. Kalau yang terawat milik PT Rajawali Nusindo dan Agen LPG,'' tutur Yuswanto (53) salah satu pedagang ayam di Jalan Kepodang, kemarin. (KS)

Terowongan Penghubung Tambakrejo dan Terboyo Kulon, Lobang Makin Mengecil, Melintas Harus Menunduk


RODA sepeda yang dikendarai siswa SD menyibak genangan air berwarna hitam di dalam terowongan setinggi kurang dari dua meter. Suaranya pun menggema seperti sabetan pedang. Sambil menundukkan kepala, dengan lincah ia menerobos terowongan tanpa harus menuntun sepedanya. Suara kecipak air pun hilang berganti gemuruh kendaraan yang melintas di Jalan Arteri Yos Sudarso yang berada tepat di atas terowongan.
Beberapa saat kemudian, sambil tergopoh-gopoh, Sumiyati (54) warga Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari menuntun sepedanya yang penuh dengan barang dagangan. Dengan perlahan, ia dorong sepedanya memasuki terowongan sepanjang kuranglebih 20 meter.
Ketika Sumiyati sampai di tengah, seorang ibu yang tengah memboncengkan anaknya pulang sekolah dari arah timur, terpaksa berhenti di pintu terowongan di sisi barat Makam Syeikh Jumadil Kubro. Ia menunggu penjual sayur keliling itu selesai melintasi terowongan penghubung Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari dan Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk.
''Kalau dulu, melintas sambil mengayuh sepeda bisa. Tetapi, karena sering tergenang, jalan di dalam terowongan pun ditinggikan. Akibatnya, lobang terowongan pun semakin mengecil. Sehingga, harus menunduk ketika melintasi terowongan ini,'' tutur Sumiyati, Senin (12/1) siang.
Menurutnya, terowongan itu ada sejak dibangun Jalan Arteri Yos Sudarso beberapa tahun lalu an menjadi jalur utama warga Terboyo Kulon yang hendak ke Tambakrejo maupun sebaliknya. Tetapi, ketika rob meninggi dan air menutup separuh lebih terowongan, warga pun terpaksa harus melintasi jalan raya.
''Kalau minta terowongan diperbesar, tentunya Jalan Arteri Yos Sudarso harus ditinggikan. Sepertinya tidak mungkin. Akhirnya, warga hanya bisa pasrah, dan terpaksa berjalan menunduk ketika melintas dan memutar jauh ketika terowongan dipenuhi air rob,'' ujar Harsono (60), warga Terboyo Kulon, kemarin. (KS)

Kampung Kulitan dan Gandhekan, Pemukiman Bangsawan yang Jadi Pangkalan Terbesar Gilo-Gilo


DAHULU, nama Kampung Kulitan dikenal karena menjadi kediaman Tasripien, tuan tanah dengan jumlah kekayaan yang tak terbilang. Seiring dengan meredupnya pamor dinasti Tasripien, popularitas kampung di wilayah Kecamatan Semarang Tengah atau berada di kawasan Jalan MT Haryono itu pun tetap tidak hilang.
Reputasi nama kampung pun kembali besar setelah awal 1960-an, para perantau asal Klaten dan Sukoharjo menghuni kawasan itu. Bersama Kampung Gandhekan, Kulitan dikenal menjadi pangkalan gilo-gilo terbesar di Kota Semarang. Tak kurang dari 80-an orang pedagang tinggal di kedua kampung yang bersebelahan itu. Setiap hari, mereka berkeliling menjajakan Gilo-gilo ke seluruh sudut Kota Semarang.
Gilo-gilo, begitu masyarakat menyebut aneka makanan yang dijajakan pedagang dengan gerobag kayu yang suka berkeliling atau mangkal di beberapa titik di Kota Semarang. Makanan yang dijual diantaranya, nanas, pepaya, bengkoang, melon, semangka, pisang, pisang goreng, singkong goreng, jadah goreng, bakwan, martabak pasar, bakwan, onde-onde, molen pisang, bolang-baling, tahu goreng, tahu isi, tahu petis, nagasari, sate kerang, sate telur puyuh, beberapa macam kerupuk dan masih ada yang lain.
Saat saya memasuki dua kampung yang masih terlihat beberapa rumah khas Semarangan yang kini dihuni cucu dan buyut Tasripien, Rabu (7/1) pagi, terlihat kesibukan kaum ibu membuat penganan. Para pedagang menyiapkan dasaran, mulai dari merajang buah, membersihkan gerobak dan mengisinya dengan aneka makanan. Gerobak-gerobak itu berjajar memenuhi jalan kampung yang tak seberapa lebar. Beranjak siang, satu per satu mereka berkeliling menjajakan dagangannya.
Suwarno (64) perantau asal Klaten yang tinggal di Kampung Gandekan mulai 1966 dan berjualan Gilo-gilo sejak 1981, menjelaskan, kata Gilo-gilo berasal dari kata "gi lho" yang merupakan transformasi dari "iki lho" yang artinye "ini lho". Atau, sang penjual ingin membuktikan eksistensi diri bahwa "ini lho makanan dan jajanan yang anda cari."
''Dulu, jumlah pedagangnya ada 80-an orang, sekarang sekitar 35 orang. Semua pedagang pun mengontrak rumah milik keturunan Tasripien, termasuk saya,'' tutur Suwarno, atau yang akrab disapa Pak Badut, saat ditemui di Jalan MT Haryono.
Pedagang Gilo-gilo sejak 1990, Kuslan (59) yang juga tinggal di rumah milik Tasripien di Kampung Kulitan menambahkan, di Kampung Kulitan, sisa-sisa kejayaan Tasripien masih terlihat. Diantaranya tujuh rumah dengan bangunan asli bergaya Semarangan dengan bahan baku kayu jati yang masih kokoh berdiri.
''Dulu, jalan masuk kampung disini cukup lebar. Mobil pun bisa masuk. Sekarang tidak bisa. Rumah-rumah disini dulu ditempati kaum bangsawan. Sekarang, selain menjadi pemukiman pedagang Gilo-gilo, beberapa rumah ditempati keturunan Pak Tasripien,'' kata bapak dua anak dan tiga cucu itu, kemarin. (KS)

Wednesday, 8 June 2016

Syekh Maulana Jumadil Kubro Pencetus Berdirinya Walisongo, Dikubur Jadi Satu dengan Perahu


Maula ya shalli wa sallim daiman abada
'Ala habibika khairil khalqi kullihimi
Huwal habibul ladhi turja syafa'atuhu
Likulli haulin minal ahwali muqtahami
Ya rabbi bil Mustafa balligh maqashidana
Waghfir lana ma madha ya wasi'al karami...

SHALAWAT sanjungan kepada Nabi Muhammad Saw melantun dari puluhan jamaah yang duduk bersila mengelilingi makam Syekh Jumadil Qubro yang ada di Jalan Arteri Yos Sudarso setelah sebelumnya mereka membaca zikir dan tahlil.
Sesaat kemudian, para jamaah yang berasal dari Kandangan, Temanggung itu pun berjalan keluar areal makam dan naik ke bus besar yang di parkir di tepi Jalan Arteri Yos Sudarso untuk ziarah Walisongo.
''Sudah jadi kebiasaan, sebelum ziarah Walisongo, makam yang kita ziarahi adalah makam Syekh Jumadil Kubro. Karena dikenal sebagai pencetus berdirinya Walisongo,'' kata H Syamsuri, pemimpin rombongan.
Salah satu pembina Yayasan Syekh Jumadil Kubro, Masyhudi Sutrisno (72) saat ditemui usai melepas rombongan peziarah menuturkan kisah awal ditemukannya makam oleh ayahnya Supardi atau Muhammad Fadholi, nama setelah Supardi menunaikan haji.
''Bapak dulu nyantri di Mbah KH Muhammad Mudzakir. Oleh Mbah Mudzakir beliau diminta untuk mengurus makam yang ada di pulau kecil di tengah tambak. Bapak pun kemudian istikharah dan mendapat petunjuk, jika makam itu adalah makam Syekh Jumadil Kubro,'' tuturnya.
Saat ditemukan, makam itu benar-benar di tengah tambak. Karena pada saat itu, kawasan makam yang kini merupakan wilayah Kelurahan Terboyo Kulon berupa rawa dan tambak. Bentuk makam pun hanya berwujud gundukan tanah dengan dua patok dari kayu dengan panjang empat meteran. Konon, menurut cerita, makam Syekh Jumadil Kubro ditutup dengan perahu.
''Jarak empat meter itu adalah perahu yang dibalik. Patok itu merupakan cukrik perahu. Bukan tinggi badan Syekh Jumadil Kubro,'' ujar bapak lima anak dan 16 cucu itu.
Oleh Supardi, makam itu pun kemudian ditutupi bangunan dari papan dan kayu dengan atap genteng. Saat Supardi menjadi modin kemudian menjadi kepala desa, ia rutin mengajak warga untuk menggelar haul tiap bakda shalat Jumat, pada Jumat terakhir bulan Dzulhijjah.
Seiring perkembangan jaman, kawasan di sekitar makam itu pun kemudian diurug dan menjadi perkampungan. Supardi pun berkeinginan untuk membangun komplek makam menjadi lebih baik.
''Keinginan itu disambut dengan robohnya papan dan atap makam, meski saat itu tidak ada angin maupun hujan. Dan akhirnya sekarang menjadi seperti ini, sudah ada masjid, lahan parkir dan WC,'' katanya didampingi Afwan, juru kunci makam.
Kebiasaan warga berziarah ke makan Syekh Jumadil Kubro sebelum ke Walisongo pun diiyakan oleh Masyhudi. Karena, Syekh Jumadil Kubro dari silsilah yang ada, dikenal sebagai pencetus berdirinya Walisongo. Ia juga cucu ke-18 dari Nabi Muhammad Saw. Dia pula yang mengajarkan ajaran agama Islam melalui ilmu hikmah, yakni tidak meninggalkan adat budaya Jawa dalam menegakkan syariat Islam.
Keturunan Syekh JUmadil Kubro juga menjadi tokoh penting dalam penyebaran Islam di Jawa, Sunan Bonang dan Sunan Drajad. Syekh Maulana Jumadil Kubro juga merupakan ulama dari Jeddah yang ahli militer dan berilmu tinggi.
Dia wafat pada 1465 M, tidak lama setelah mengunjungi anak cucunya keturunan dari Syeh Maulana Ishaq di daerah Semarang dan sekitarnya (Demak, Kalipucang Welahan Jepara).
Dalam beberapa sumber sejarah, penyebaran agama Islam di Pulau Jawa pertama kali dilakukan Syekh JUmadil Kubro pada akhir abad 14 (tahun 1399). Sasaran kegiatan dakwahnya yang pertama kali adalah di lingkungan Kerajaan Majapahit, yaitu daerah Trowulan, Mojokerto, yang saat itu masyarakatnya penganut kuat ajaran Hindu-Buddha. (KS)

Gedung Sekolah Sarekat Islam, Jadi Saksi Pergerakan Pemuda di Semarang


SEMARANG dikenal sebagai kota yang sejak dahulu menjadi basis pergerakan, pemberontakan, sekaligus perlawanan. Pasalnya, Semarang merupakan salah satu sentral kekuatan kolonial Belanda dalam berbagai industri, mulai dari perkapalan, kereta api, sampai perkebunan.
Oleh sebab itu, Semarang merupakan wilayah ideal dalam perkembangan pergerakan nasional untuk menentang pihak penjajah. Mulai dari berdirinya organisasi-organisasi politik pergerakan sampai sekolah-sekolah berbasis pergerakan.
Gerakan itu menurut pakar sejarah Kota Semarang yang Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip Dewi Yuliati karena kondisi masyarakat yang telah secara tidak langsung tergusur dari pekerjaan aslinya dari petani menjadi buruh. Pasalnya, masuknya kolonial telah mengubah lahan-lahan yang sebelumnya digarap warga menjadi perkebunan.
''Kesenjangan sosial pun muncul, akhirnya masyarakat pergi ke kota dan bekerja sebagai buruh. Masyarakat industrial pun terwujud secara tidak langsung,'' tuturnya.
Salah satu sekolah yang berperan penting dalam proses pergerakan nasional di Semarang adalah Sekolah Sarekat Islam (SI). Konsep pendidikan kerakyatan menjadi kurikulum di sekolah ini.
Sekolah SI juga memegang peran penting dalam proses pergerakan nasional terutama dalam hal pendidikan progresif dan revolusioner. Hal ini tak lepas dari sistem pendidikannya yang bersifat propagandais serta cenderung membela kaum-kaum tertindas.
Dari segi kualitas dan kuantitas sekolah ini tak dapat dipandang sebelah mata mengenai kontribusinya terhadap pergerakan nasional yang berbasis di Semarang.
Tan Malaka dan Semaoen menjadi tokoh yang dianggap paling berpengaruh terhadap perkembangan sekolah rakyat ini.
''Di Semarang sendiri pernah terjadi gelombang industrialisasi yang pesat, sehingga memunculkan banyak buruh yang menjadi pekerja di berbagai perusahaan. Buruh-buruh inilah yang menjadi pendukung sekaligus subjek pergerakan SI di bawah pimpinan Semaoen,'' paparnya.
Naiknya Semaoen menjadi presiden SI di Semarang juga telah mengubah paradigma pergerakan SI. Semula SI yang hanya fokus pada pergerakan kaum menengah, kemudian berkembang pada gerakan untuk rakyat kecil, sehingga paradigma perjuangan lebih bersifat radikal.
''SI pun dalam konteks lokal, menjadi perumus semua gerakan yang ada di seluruh Indonesia. Mulai dari adanya pegadaian, gerakan melawan kolonialisme, politik dan industri,'' tandasnya.
Sekolah ini menurutnya juga tidak semata-mata memperjuangkan segi intelektual bagi para peserta didiknya, tapi jauh dari itu Sekolah SI juga mendidik agar peserta didik peka sosial dan tidak lupa akan nasib kaum kromo. Kepekaan sosial, rasa solidaritas tinggi, menolak kemapanan dan semangat pantang menyerah merupakan sikap-sikap yang ditekankan di sekolah ini.
Dan kini, gedung SI tempat sekolah itu berada telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi melalui SK Nomor 640/184/14 tertanggal 27 Februari 2014. Gedung itu pun kini juga telah dipugar karena nyaris roboh.
Kebijakan terhadap gedung bekas kantor Sarekat Islam dan pernah menjadi tempat tempat Tan Malaka mengajar di Jalan Gendong Selatan Nomor 1144, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur itu mengacu rekomendasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dan tim ahli cagar budaya Kota Semarang pada 30 Januari 2014. (KS)

"Empu" Narto, Perajin Pande Besi Wajib Prihatin dan Berpuasa agar "Bertuah"


Tradisi memang unik. Namun, tradisi dapat bertahan karena terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Dari tradisi pula mereka terus berkarya, mengikuti jejak nenek moyang meski era sudah berbeda. Seperti usaha pande besi yang hingga kini masih ada.

SUARA besi ditempa memekakkan telinga. Ketika sinar matahari mulai perlahan tertutup mendung, sesekali, suara itu hilang. Berganti dengan bau arang yang terbakar hingga asapnya membumbung ke udara dari sebuah bangunan kayu di Kampung Perbalan RT 3 RW 8 Kelurahan Gunungpati Kecamatan Gunungpati.
Seorang lelaki paruh baya bercelana jeans, kaos oblong nampak membolak-balik besi yang mengaga. Handphone model qwerty sesekali ia keluarkan dari sakunya saat besi yang dibakar belum matang atau menganga untuk ditempa.
Lelaki itu bernama Narto Susilo (32). Warga Dusun Kaligetas RT 5 RW 4 Kelurahan Jatibarang Kecamatan Mijen Kota Semarang. Ia menekuni pekerjaannya itu sejak duduk di bangku sekolah dasar. Sepulang sekolah, ia tidak seperti anak-anak lainnya, asyik bermain.
"Ketika teman-teman seusia saya asyik bermain dengan mobil-mobilan, sepeda, saya malah bermain api bersama bapak,'' katanya sambil tertawa.
Menjadi pande besi menurutnya tidaklah mudah. Selain bakat dan keturunan, seorang pande besi memiliki kewajiban untuk prihatin dengan berpuasa dan selalu berdoa sebelum membuat senjata itu "bertuah".
Narto pun Awalnya hanya sekedar melihat ayahnya, Juwono (55) yang juga sebagai pande besi. Kini Narto dewasa, telah mahir membuat sabit, parang, linggis, pacul, sekop dan alat pertanian lainnya.
Ayah Narto merupakan generasi kedua perajin besi tempa setelah sebelumnya dilakukan oleh kakeknya, Karimin yang dikenal sebagai pande besi terbaik di Kota Semarang pada jaman Jepang.
Ayahnya sendiri kini masih menjadi perajin dan membuka usaha di rumah. Sementara Narto, membuka usaha besi tempa ini di Gunungpati. Menempati lahan seluas empat kali tiga meter dengan biaya sewa Rp 10 ribu per hari ini, dalam sehari ia mampu memproduksi 10 hingga 15 buah sabit dan parang.
Omsetnya pun perbulan mencapai Rp 2 juta. Untuk membuat kerajinannya ini, ia menggunakan bahan baku bekas per mobil dengan berat tujuh kilogram yang didapat dari tukang loak.
Proses pembuatannyapun hanya dibantu seorang teman. Memanasi besi di tengah bara arang sampai merah membara, kemudian ditempa dan mempertajam dengan cara dikikir.
"Membuat senjata itu kuncinya hati-hati, disiplin, temen dan telaten," ujar bapak satu anak ini.
Karena perajin pande era saat ini mulai berkurang, ia berharap anak laki-lakinya kelak akan menjadi pande. Dengan harapan, perajin pande tidak hilang begitu saja, karena masyarakat, terutama peternak dan petani masih membutuhkan keberadaannya.
Membuat senjata yang mampu memotong besi dengan sekali tebasan menjadi keinginan besar dirinya yang sampai hari ini belum ditemukan. Karena memotong besi dengan sebilah gergaji menurutnya memakan waktu yang lama dan tidak praktis.
Kerajinan besi tempa yang ia produksi selama ini konsumennya bukan hanya warga Gunungpati, namun dari daerah luar Kota Semarang. Seperti Temanggung, Boyolali, Demak, Jepara, bahkan hingga Sumatera dan Kalimantan. Untuk sebilah sabit ia jual Rp 30 hingga Rp 40 ribu perbuahnya. Ia pun tidak begitu repot menjual produknya ke pasar. Karena, pembeli telah datang sendiri.
''Kualitas dan garapannya halus, seperti garapan bapaknya," ujar Demar (54), warga Kecamatan Jumo Kabupaten Temanggung, pelanggan setia Empu Narto saat ditanya tentang hasil besi tempanya. (KS)